Rabu, 18 Mei 2016

Dongeng Little Red Riding Hood (Si kerudung merah)

Matahari menyapa bumi pada pagi yang cerah. Di sebuah desa kecil yang indah di pinggir hutan, terdengar alunan nada merdu dari nyanyian seorang gadis kecil. Ini adalah hari ulang tahunnya, itu sebabnya ia terlihat amat bahagia.

“Kado!, aku harus meminta kado ulang tahunku kepada ibu.” Si gadis kecil itu menjentikkan jarinya ketika dalam benaknya tersirat sebuah hadiah yang akan ia dapatkan dari ibunya.

“Ibu, mana kado ulang tahun untukku?.” Dengan manja, gadis kecil itu meminta hadiah ulang tahun dari ibunya yang saat itu sedang membuat kue di dapur.

“Ibu punya hadiah istimewa buat kamu sayang.” Jawab sang ibu lembut dengan penuh senyum sambil sesekali mengaduk adonan kue yang belum matang.

“Sebentar, masakan kue ibu hampir selesai.” Si gadis kecil itu dengan sabar menunggu sang ibu menyelesaikan pekerjaannya.

“Ayo sayang, kita ke kamar.” Ibupun mengajak gadis kecilnya ke kamar untuk memberikannya hadiah. Si gadis kecil terlihat sangat tidak sabar untuk melihat hadiah yang akan ia dapatkan dari ibunya.

Sebuah kotak kecil yang dilapisi dengan bungkus kado berwarna merah, sekarang sudah berada di tangan si gadis kecil yang manis itu. Warna merah adalah warna kesukaannya. Dengan sangat hati-hati, si gadis kecil itu membuka kotak berwarna merah tersebut. Hadiah yang ia dapatkan dari ibunya yang tersayang.

“Waahh kerudung berwarna merah!. Aku suka sekali ibu. Terima kasih ibuku sayang.” Dengan penuh kebahagiaan, gadis kecil itu mencium dan memeluk ibunya.
“Aku akan selalu memakai kerudung ini ibu.” Sejak saat itu, si gadis kecil dikenal dengan nama “Gadis berkerudung Merah.”

-0-

Pada suatu sore, ibu meminta kepada gadis berkerudung merah untuk mengunjungi neneknya yang sedang sakit. Jalan ke rumah nenek sangat jauh dan berbahaya. Banyak binatang buas yang berkeliaran. Harus memasuki hutan agar cepat sampai ke rumah nenek. Tapi dengan senang hati, gadis kerudung merah menuruti perkataan sang ibu dan mau mengunjungi nenek di rumahnya dengan membawa kue-kue yang enak buatan ibu.

“Di hutan sana sangat berbahaya sayang. Kamu harus hati-hati dan cepat sampai ke rumah nenek. Hari sudah sore.” Ucap sang ibu dengan sangat lembut.

“Dan ingat!. Kamu tidak boleh berbicara dengan siapapun. Tidak boleh berbicara dengan orang asing yang tidak kamu kenal.” Lanjutnya.

“Iya ibu, aku pergi dulu ya bu, dadaah ibu.” Dengan ceria, gadis berkerudung merah itu meninggalkan rumah menuju rumah neneknya.

Gadis berkerudung merah sangat ceria dan menikmati perjalanannya. Ia terus bernyanyi-nyanyi riang sambil berjalan. Melewati bunga-bunga yang indah. Hingga ia lupa dengan pesan sang ibu.Tiba di hutan, ada seseorang yang datang dari balik pohon menghampiri si gadis berkerudung merah.

“Hai gadis berkerudung merah, mau kemana kau?.” Tanya orang itu.
“Aku mau menjenguk nenek dan memberikan kue ini.” Jawab si gadis berkerudung merah. Ia lupa akan pesan ibunya bahwa ia tidak boleh berbicara kepada orang asing yang tidak ia kenal.

-0-

Sampailah si gadis berkerudung merah ke rumah neneknya.
“Ibu bilang, nenek sedang sakit. Aku tidak boleh mengganggu nenek. Lebih baik aku langsung masuk saja dan pergi ke kamar nenek.” Ucap si gadis berkerudung merah dalam hatinya.
Akhirnya, gadis berkerudung merahpun memasuki kamar nenek. Dan ia mendapati neneknya sedang berbaring di ranjangnya.

“Hai sayangku, rupanya kamu sudah sampai. Sini sayang, duduk di samping nenek.” Ucap sang nenek.

“Nek, kenapa suara nenek berubah?.” Tanya si gadis berkerudung merah.“Ooh ini karna tenggorokan nenek sedang sakit.” Jawabnya.“Tapi nek, kenapa telinga nenek menjadi sangat besar?.”“Ini agar nenek bisa mendengar suaramu yang indah itu dengan baik.”“Tapi, kenapa mata nenek jadi besar sekali?.”“Ini supaya nenek bisa melihatmu dengan baik sayang.”“Terus, kenapa gigi nenek sangat besar dan runcing?.”“Ini, supaya aku bisa memakanmu. Hahahaaaa.”

Ternyata, yang dianggap nenek oleh gadis berkerudung merah ini adalah seekor srigala buas yang suka memakan manusia. Dia telah melahap sang nenek. Gadis berkerudung merah teriak meminta tolong. Dan akhirnya, srigala memakannya juga.

Tapi tidak lama setelah itu, datang penjaga hutan yang mendengar teriakan dari arah rumah nenek. Ia mendapati srigala sedang berbaring dengan perut yang gendut. Sang penjaga hutanpun lalu menangkap srigala itu dan membelah perut srigala tersebut.Akhirnya gadis berkerudung merah dan nenek selamat dan tidak mati di dalam perut srigala.

TAMAT

Selasa, 17 Mei 2016

Si Krudung Merah dan Serigala Jahat

Si kerudung merah adalah dongeng yang sudah terkenal di Indonesia. Cerita si Krudung merah ini sebenarnya berasal dari Eropa tepatnya di Prancis yang di tulis oleh Charles Perrault dengan judul Little Red Riding Hood. Dongeng ini pertama kali di publikasikan pada abad 17-an.

Little Red Riding Hood atau di Indonesia lebih dikenal dengan judul Si Kerudung merah dan Serigala jahat memiliki nasib yang sama dengan dongeng Winnie The Pooh. Dongeng ini juga diadaptasi oleh rumah produksi Walt Disney. Namun dengan sedikit perubahan cerita dengan pertimbangan untuk menyuguhkan nontonan kartun yang layak bagi anak-anak.

Dalam dongeng ini berkisah tentang gadis kecil bernama Little Red Riding Hood (karena dia suka mengenakan kerudung merah) yang disuruh oleh ibunya untuk membesuk neneknya yang tinggal di tengah hutan dan sedang sakit. Gadis itupun pergi kedalam hutan sambil membawa makanan yang dibuat oleh ibunya.

Namun dalam perjalanannya gadis kerudung merah bertemu dengan serigala. Serigala tersebut ingin memakan si krudung merah tanpa terlihat mencurigakan. Akhirnya serigala mengajak gadis tersebut bicara dan menyarankan untuk memetik beberapa bunga sebelum ke rumah neneknya. Dengan polosnya si gadis kerudung merahpun mengikuti saran serigala.

Serigala yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan langsung pergi ke rumah nenek dan berpura-pura menjadi gadis kerudung merah. Dan mengunci si nenek di dalam lemari, sehingga serigala bisa berpura-pura menjadi nenek kerudung merah. Ketika gadis kerudung merah datang, sebenarnya ia curiga dengan neneknya yang terlihat tidak seperti biasanya. Serigala pun langsung memakan gadis kerudung merah.

Dongeng Little Red Riding Hood yang asli hanya berakhir sampai disitu, namun ternyata dongeng ini  juga ditulis ulang oleh Brother Grimms dan beberapa penulis lain di Perancis dan German. Dalam beberapa versi ditambahkan kisah pemburu dan penebang kayu. Nasib si nenek juga ditulis ikut dimakan oleh Serigala.

Adanya pemburu atau penebang kayu, adalah untuk menolong gadis kerudung merah dan si nenek. Setelah kenyang Serigala tertidur pulas, saat itulah penebang kayu atau pemburu datang menyelamatkan gadis kerudung merah dan si nenek dengan cara membuka perut serigala.

Saat si krudung merah dan neneknya berhasil keluar maka mereka dibantu penebang kayu memasukan batu-bata kedalam perut serigala, sampai-sampai serigala tidak bisa berjaan dan akhirnya mati.

Senin, 16 Mei 2016

Karakter Winnie The Pooh and Friends


Winnie the Pooh adalah beruang emas kecil, memiliki tinggi tubuh sekitar 22 inci.
Memiliki sedikit otak dan memakai baju warna merah tua.
Karakter :
1. Sering melakukan hal-hal konyol .
2. Suka mamakan madu .
3. Suka bertualang dipagi hari .



Piglet adalah babi merah muda yang sangat kecil dan suka makan jagung jerami .
Karakter :
1. Pemalu .
2. Sering cemas dan gelisah .
3. Suka berpetualang .
4. Suka warna cerah .
5. Suka balon .
6. Suka dengan bunga dandelion yang bertiup .


Tigger adalah hewan yang suka melenting, menyerupai harimau.
Mempunyai tinggi sekitar 23 inci. Mudah dikenali karena mempunyai garis-garis hitam dan jeruk, ekor kenyal, dagu panjang, dan mata bulat.
Karakter :
1. Periang .
2. Senang melompat kesana kemari .
3. Hiperaktif ( tidak bisa diam )



Eeyore adalah seekor keledai berwarna biru keabu-abuan, dengan tinggi sekitar 18 inci dan panjang 27 inci. Dia berulang tahun pada tanggal 10 Mei.
Karakter :
1. Cerdas .
2. Suka murung .
3. Suka mengambang diatas air .
4. Tidak banyak bicara ( pendiam ) .
5. Suka makan rumput berduri .
6. Suka dengan tanaman .
7. Suka membantu temannya .
8. Penyayang binatang .
9. Tidak suka mengingat hari ulang tahunnya .
10. Tidak suka tali ekornya lepas .
11. Tidak suka jika rumahnya ambruk .



Rabbit adalah kelinci yang memiliki otak.
Makanan favoritnya adalah wortel dan sayuran, ia membuat satu titik untuk menghindari pooh selama waktu makan siang.
Karakter :
1. Suka kerapian .
2. Teratur .
3. Suka memimpin kegiatan .
4. Cerewet .


Gopher adalah bagian dari cerita asli dan puisi yang ditulis oleh A.A milne.
Memiliki tinggi 15 inci .
Karakter :
1. Ahli tukang batu .
2. builder .
3. suka menggalian .
4. demolition .


Kanga adalah karakter perempuan tunggal di dalam cerita Winnie the pooh.
Memiliki tinggi 30 inci.
Karakter :
1. Suka membawa keluarganya disakunya .



Owl adalah burung hantu besar yang berdiri hampir 28 inci dan menyebar sayapnya 42 inci.
Suka bercerita tentang sanak saudaranya.
Karakter :
1. Paling bijak .
2. Suka menyombongkan dirinya .
3. Selalu datang menawarkan nasihat .
4. Narsistik ( mencintai diri sendiri secara berlebihan ) .



Robin adalah satu-satunya tokoh manusia yang diduga mengalami gangguan psikis schizophrenia. Dimana penderitanya hidup didunianya sendiri dan merasakan kehadiran tokoh karangannya.
Karakter :
1. Suka membantu pooh mengumpulkan madu .
2. Suka makan kue .
3. Suka membantu teman .

Jumat, 13 Mei 2016

Sejarah Winnie The Pooh


Siapa sih yang tak kenal dengan tokoh-tokoh diatas "Winnie The Pooh and friends". Serial kartun ini diproduksi oleh Disney pada tahun 1960an. Tapi, tau kah kamu bahwa Winnie the pooh awalnya bukanlah kartun, tetapi dongeng yang ditulis oleh Alan Alexander Milne.

A.A. Milne terinspirasi dari boneka anaknya  Christoper Rubin Milne. Yang semakin diperkuat ketika A.A Milne dan anaknya pergi ke kebun binatang di London dan melihat ada beruang hitam yang lucu dengan nama Winniepeg.

Nama Winniepeg diambil dari nama kota dia berasal, dari situlah karakter Winnie muncul sebagai nama pendek Winniepeg. Sedangkan nama Pooh berasal dari  nama angsa di kebun binatang itu juga.

Cerita Winnie-the-Pooh mulai ditulis A. A Milne di rumahnya, Ashdown Forest, Sussex Timur, Inggris. Bab pertama Winnie-the-Pooh mulai dipublikasikan pada tahun 1925 yang dikemas dalam bentuk cerita natal di London's Evening News.

Satu tahun kemudian, cerita A.A Milne dengan karakter Winnie-the-Pooh beredar dalam bentuk buku "Winnie-The pooh" terbitan Methuen & Co.Ltd. Pada tahun 1928 terbit dalam judul "The House at Pooh Corner". Kemudian ada berapa puisi tentang Winnie-the-Pooh dalam buku cerita anak-anak yang berjudul "When We Were Very Young" dan "Now We Are Six". Keempat buku tersebut terdapat gambar ilustrasi cerita yang digambar oleh E. H. Shepard.

Pada tahun 1930, lisensi karakter Winne-the-Pooh dipegang oleh Stephen Slesinger. Karakter Pooh pun berkembang menjadi industri lisensi yang moderen. Kemudian pada tahun 1933, untuk pertama kalinya karakter Winney-the Pooh dan kawan-kawan tampil berwarna. Slesinger memberikan warna merah pada kaos Pooh. Selama 20 tahun, Slesinger memasarkan Pooh dan kawan-kawannya.

Setelah Slesinger meninggal usahanya dilanjutkan oleh sang instri, Shirley Slesinger Laswell. Barulah pada tahun 1961, lisensi Winnie-the-Pooh dipegang oleh Disney setelah Shirley menjual royaltinya ke Disney. Sejak tahun 1966 munculnya film Winnie-the-Pooh dan kawan-kawan yang diproduksi oleh Disney. Kini karakter Winnie-the-Pooh yang sangat menyukai madu makin mendunia dengan ragam cerita dan animasi yang sangat menarik.

Kamis, 12 Mei 2016

Dongeng Singkat Asal-Usul Gunung Bromo

Di sebuah desa tak jauh dari gunung Bromo, hiduplah seorang gadis yang cantik jelita. Namanya Rara Anteng. Konon, ketika gadis itu di lahirkan, tidak menangis seperti bayi pada umumnya. Oleh karena itu, ia dinamakan Rara Anteng. Kata orang Jawa anteng artinya tidak banyak bergerak atau tenang.

Banyak jejaka yang melamar Rara Anteng, tetapi semuanya ditolak. Tersebutlah seorang raksasa yang buruk mukanya lagi bengis. Matanya besar sekali. Kumis, janggut, dan cambangnya amat lebat. Raksasa itu pun melamar Rara Anteng. Rara Anteng takut sekali, ia takut menyatakan penolakannya karena raksasa itu pasti akan marah.

Kata Rara Anteng, "Hai raksasa, aku mau kau persunting, asalkan kau bersedia memenuhi permintaanku!"

"Ha, ha, ha,... !" tawa raksasa itu menggelegar. "Katakan cepat, permintaanmu pasti akan ku laksanakan!"

"Ubahlah gunung Bromo ini menjadi sebuah danau yang harus kau selesaikan dalam waktu semalam" kata Rara Anteng. "Sebelum fajar menyingsing dan sebelum ayam jantan berkokok, danau itu harus sudah kau siapkan agar dapat ku pakai mandi".

Rara Anteng berpikir raksasa itu tidak mungkin melaksanakan permintaannya dalam waktu yang sesingkat itu.

Tanpa banyak bicara, raksasa itu mulai bekerja. Ia menggali danau di sekitar gunung bromo itu saja. Dengan sebuah batok atau tempurung yang cukup besar, ia melempar tanah dan batu-batu. Sepanjang malam terdengar bunyi gemuruh. Pohon-pohon di hutan itu sebatang demi sebatang di cabuti dan di lemparkan ke laut Selatan. Binatang-binatang buas pun lari ketakutan.

Rara Anteng amat gelisah. Ternyata raksasa itu amat giat. Malam masih panjang, tetapi pekerjaan raksasa itu hampir selesai. Rara Anteng mencari akal. Hari masih malam, di luar gelap pekat. Dengan tergopoh-gopoh Rara Anteng pergi ke lumbung. Ia mengambil alu, lalu mulai menumbuk padi. Perempuan-perembuan desa bangun semuanya. Mereka pun ikut menumbuk padi.

Mendengan suara orang-orang menumbuk padi itu ayam-ayam jantan pun terkejut. Ayam jantan di seluruh desa pun berkokok bersahut-sahutan.

Alangkah terkejutnya raksasa itu mendengar ayam jantan berkokok dan bunyi alu yang berdentang-dentang. Ia bangkit  memandang ke arah timur. Ternyata hari masih gelap. Ia juga tidak melihat sinar matahari pada waktu fajar.

Tinggal sebatok lagi tanah galian yang harus di pindahkan. Tubuh raksasa itu tiba-tiba menjadi lemas. Tak kuasa ia melemparkan batok penuh gaalian tanah yang terakhir. Robohlah raksasa itu ke tanah.

"O..., Rara Anteng, Rara Anteng....,,,,,"keluh raksasa itu. Batok dan tanah galian itu menutupi tubuhnya dan jadilah sebuah gunung bernama Gunung Batok.

Danau di sekitar gunung Batok hampir selesai, tetapi belum sempat di isi air. Sekarang danau itu di sebut Segara Wedi, yang berarti laut pasir karena danau itu penuh dengan pasir.

Akhirnya, pada suatu hari yang baik, Rara Anteng menikah dengan Joko Tengger. Begitulah asal mula daerah itu di sebut Tengger.

Rabu, 11 Mei 2016

Dongeng Asal-Usul Madura

Tersebutlah sebuah kerajaan di atas Pegunungan Tengger bernama Medangkamulan. Pada zaman itu, Kerajaan Medangkamulan diperintah oleh Prabu Gilingwesi yang sangat dihormati dan ditaati rakyatnya. Raja dibantu seorang perdana menteri yang cerdik bernama Patih Pranggulang. 


Meskipun Kerajaan Medangkamulan adil dan makmur, ada satu hal yang membuat Prabu Gilingwesi agak bersusah hati. Putrinya yang cantik jelita bernama Raden Ayu Tunjungsekar tidak mau bersuami. Telah banyak lamaran dari para putra mahkota negara-negara tetangga, namun semua ditolak sang Putri dengan alasan belum waktunya untuk berkeluarga. 

Pada suatu malam, Tunjungsekar tidur amat pulas. Dalam tidurnya, ia bermimpi sedang berjalan-jalan di tengah kebun yang sangat indah. Ketika ia sedang menikmati keindahan itu, tiba-tiba bulan purnama muncul di langit yang bersih tanpa awan. Ia sangat terpesona melihat sinar bulan yang sangat lembut itu. 

Bulan itu pun turun. Makin lama makin rendah. Tunjungsekar heran melihat peristiwa itu. Setelah dekat, bulan itu masuk ke dalam tubuh Tunjungsekar. Pada saat itu, Tunjungsekar terbangun. Ia sangat terkejut. Kemudian ia membangunkan inang pengasuhnya dan menanyakan arti mimpi aneh itu. 

"Mimpi itu hanya kembang angan-angan saat tidur," jawab inang pengasuh. "Sebaiknya Tuan Putri Tidur kembali." 

Beberapa bulan sesudah mimpi itu, Tunjungsekar hamil. Untunglah berita itu hanya diketahui beberapa orang di kalangan istana, belum tersebar ke masyarakat.

Prabu Gilingwesi merasa sangat terpukul mendengar putrinya hamil tanpa suami. Baginda juga sangat heran  mengapa masih ada orang bisa masuk ke kamar putrinya, padahal penjagaan sangat ketat.

Tunjungsekar dipanggil menghadap baginda. Ia menjelaskan bahwa sebelum hamil, terlebih dahulu ia bermimpi ada bulan purnama masuk ke dalam tubuhnya. Akan tetapi, Prabu Gilingwesi tidak percaya pada pengakuan putrinya. Dengan wajah merah, Baginda pun memanggil Patih Pranggulang.

"Patih," kata Raja dengan nada sangat marah, "bawahlah Tunjungsekar ke hutan. Kemudian, bunuhlah ia sebagai hukuman atas dosanya mencemarkan kehormatan negara!"

Patih Pranggulang pun berangkat bersama Tunjungsekar menuju ke hutan. Setelah sehari semalam berjalan, sampailah mereka di sebuah hutan lebat dekat laut. Putri Tunjungsekar berhenti dan duduk di atas sebuah batu.

"Ki Patih," ujar Tunjungsekar,"Silakan hukuman mati untukku dilaksanakan. Tetapi ingat, kalau aku tidak bersalah, engkau tidak akan bisa membunuhku."

Patih Pranggulang pun menghunus pedangnya. Dengan cepat ia mengayunkan pedang itu ke tubuh Tunjungsekar. Akan tetapi, sebelum menyentuh tubuh Tunjungsekar, pedang itu jatuh ke tanah. Patih Pranggulang pun memungut pedang itu kembali. Sewaktu diayunkan ke leher sang putri, pedang itu jatuh lagi. Tiga kali Patih Pranggulang melakukan hal seperti itu, tetapi gagal semua.

Sang Putri ternyata tidak bisa dijatuhi hukuman. Patih Pranggulang menyimpulkan dalam hati bahwa 
Tunjungsekar tidak bersalah. Ia pun menyembah di hadapan Tunjungsekar. Katanya," Tuan Putri sebaiknya segera pergi dari tempat ini. Saya akan membuatkan rakit untuk Tuan Putri naiki menyeberang laut. Saya sendiri tidak akan kembali ke keraton. Saya akan bertapa sambil mendoakan Tuan Putri agar selalu selamat."

Setelah rakit itu jadi, Tunjungsekar naik ke atasnya. Perlahan-lahan rakit itu bergerak meninggalkan pantai. Makin lama, makin jauh ke tengah laut. Patih Pranggulang dengan mata hampir tak berkedip memperhatikan rakit yang dinaiki sang putri.Lama sekali ia berdiri di tepi pantai. Setelah malam tiba, Patih Pranggulang masuk ke dalam hutan. Sejak itu, ia mengganti namanya menjadi Ki Poleng.

Rakit yang dinaiki Tunjungsekar dibawa arus ke utara. Beberapa hari lamanya ia terkatung-katung di tengah laut. Ia pasrah pada kehendak Tuhan, kemana saja rakit bergerak dipermainkan ombak, ia tetap tenang.

Pada suatu malam, bulan sedang purnama. Cahaya bulan tampak menerangi laut yang hitam kebiru-biruan. Ketika bulan purnama sedang rembang, tiba-tiba perut Tunjungsekar terasa sakit. Beberapa saat kemudian, ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang elok parasnya. Lalu, bayi itu didekapnya dengan penuh kasih sayang. Karena anak itu lahir di tengah laut, Tunjungsekar memberinya nama Raden Sagara. Menurut istilah Madura, Sagara berarti laut.

Beberapa hari kemudian, tampaklah sebuah pulau. Rakit yang dinaiki Tunjungsekar bergerak semakin dekat ke pulau itu. Tunjungsekar sangat gembira sebab ia berpikir akan tinggal di pulau itu bersama Raden Sagara.

Rakit itu pun menepi. Tunjungsekar segera turun ke darat sambil menggendong putranya. Ketika tiba di darat, sebuah keajaiban terjadi. Raden Sagara meloncat ke tanah sambil berlari ke sana kemari. Tubuhnya semakin besar, seperti anak berumur dua tahun.

Raden Sagara dan ibunya terus berjalan. Pulau itu sepi. Mereka tidak berjumpa dengan manusia, hanya burung-burung beraneka jenis serta margasatwa lainnya.

Raden Sagara dan ibunya pun tiba di sebuah tanah lapang yang luas. Di sudut tanah lapang itu, Raden Sagara melihat sebatang pohon. Ia mendekati pohon itu. Di dahan paling rendah ada sarang lebah yang cukup besar. Ketika Raden Sagara mendekat, lebah-lebah itu beterbangan menjauhi sarangnya seakan-akan memberi kesempatan kepada Raden Sagara untuk menikmati madu. Tidak ayal lagi, Raden Sagara pun mengambil madu dan menikmatinya bersama ibunya.

Karena mereka menemukan madu di tanah lapang yang luas, tempat itu kemudian diberi nama Madura yang berasal dari kata maddu e ra-ra. Artnya, madu di tanah daratan.

Kemudian Tunjungsekar bersama putranya tinggal di pulau itu. Setelah dewasa, Raden Sagara naik tahta sebagai raja yang memerintah Pulau Madura.

Selasa, 10 Mei 2016

Dongeng Asal-Usul Danau Toba

Alkisah pada jaman dahulu kala hiduplan seorang pemuda bernama Toba. Ia adalah seorang yatim piatu. Sehari-hari ia bekerja di ladang. Sesekali dia mencari ikan di sungai yang berada tak jauh dari gubugnya. Ikan hasil tangkapannya biasanya dijadikan sebagai lauk dan sisanya dijual ke pasar.
Pada suatu hari Toba memancing sepulang dari Ladang. Ia sangat berharap mendapatkan ikan yang besar yang bisa segera dimasaknya untuk dijadikan lauk. Terpenuhilah harapannya itu. Tak berapa lama ia melemparkan pancingnya ke sungai, mata kailnya telah disambar ikan. Betapa gembiranya ia ketika menarik tali pancingnya dan mendapati seekor ikan besar tersangkut di mata pancingnya.
Sejenak toba memperhatikan ikan besar yang berhasil dipancingnya itu.” Ikan yang aneh.” Gumannya. Seumur hidupnya belum pernah dilihatnya ikan seperti itu. Warna ikan itu kekuningan dan sisik-sisiknya kuning keemasan. Terlihat berkilauan sisik-sisik itu ketika terkena sinar matahari. Ketika Toba melepaskan mata kailnya dari mulut ikan tangkapannya, mendadak terjadi sebuah keajaiban. Ikan aneh bersisik kuning keemasan itu menjelma menjadi seorang perempuan yang cantik jelita wajahnya.
Toba terheran-heran mendapati keajaiban yang berlangsung di depan matanya itu. Ia hanya berdiri dengan bola mata membulat dan mulut melongo.
“Tuan.” Kata perempuan jelmaan ikan indah itu.”Aku adalah kutukan Dewa karena telah melanggar larangan besarnya. Telah ditakdirkan kepadaku, bahwa aku akan berubah bentuk menyerupai makhluk apa saja yang memegang atau menyentuhku. Karena tuan telah memegangku, maka akupun berubah menjadi manusia seperti Tuan ini.”
Toba memperkenalkan namanya. Begitu pula dengan perempuan berwajah jelita itu.” Namaku, putri, tuan.”
Toba lantas menjelaskan pula keinginannya untuk memperistri Putri karena dia terpesona kecantuikan si perempuan jelmaan ikan itu.” Bersediakah engkau menikah dengan ku?” tanyanya setelah pembicaraan beberapa saat.
“Baiklak, aku bersedia, tuan, Selama tuan bersedia pula memenuhi satu syarat yang kuajukan.” Jawab Putri
“Syarat apa yang engkau kehendaki? Sebutkan. Niscaya aku akan memenuhinya.”
“Permintaanku hanya satu, hendaklah tuan menutup rapat-rapat rahasiaku. Jangan sekali-kali tuan menyebutkan jika aku berasal dari ikan. Jika tuan menyatakan kesedian tuan untuk menjaga rahasia ini, aku bersedia menjadi istri Tuan.”
“Baiklah.” Kata Toba.” Aku akan menutup rapat-rapat rahasimu ini. Rahasia ini hanya kita ketahui berdua saja.”
Toba dan Putri pun menikah. Keduanya hidup rukun dan berbahagia meski dalam kesederhanaan. Kebahagian mereka serasa kian lengkap dengan kelahiran anak mereka. Seorang anak laki-laki. Samosir namanya.
Samosir tumbuh mejadi anak yang sehat. Tubuhnya kuat. Sayang dia agak nakal serta pemalas. Keinginannya hanya tidur-tiduran saja. Ia seperti tidak peduli atau ingin membantu kerepotan ayahnya yang sibuk bekerja di ladang. Bahkan, untuk sekedar mengantar makanan dan minuman untuk ayahnyapun, Samosir kerap menolak jika diminta. Seandainya mau, dia akan melakukannya dengan malas-malasan, dengan wajah bersungut-sungut. Bertambah-tambah malas kelakuannya akibat ibunya terus memanjakannya. Apapun yang dimintanya akan diusahakan ibunya untuk dipenuhi.
Samosir sangat kuat nafsu makannya. Jatah makanan sehari untuk sekeluarganya bisa dihabiskannya dalam sekali makan. Toba merasa harus bekerja lebih keras lagi untuk dapat memenuhi keinginan makan anak laki-lakinya yangb luar biasa itu.
Pada suatu hari Samosir diminta ibunya untuk mengantarkan makanan dan minuman untuk ayahnya. Samosir yang tengah bermalas-malasan semula enggan untuk menjalankan perintah ibunya itu. Namun, setelah ibunya terus memaksa akhirnya dia bersedia melakukannya meski dengan wajah yang bersungut-sungut.
Samosir membawa makanan dan minuman itu menuju ke ladang. Ditengah perjalanan, Samosir measa lapar. Dihentikannya langkah menuju kebun. Ia lantas memakan makanan yang seharusnya diperuntukan bagi ayahnya itu. Tidak dihabiskannya semua makanan itu melainkan disisakan sedikit. Dengan makanan dan minuman yang tersisa sedikit itu Samosir melanjutkan perjalanan menuju ladang. Setibanya di ladang, samosir memberikan makanan dan minuman itu untuk ayahnya.
Toba telah sangat merasa lapar karena bekerja keras sejak pagi langsung membuka bekal untuk memakannya. Terperanjat dia saat melihat makanan untuk nya tinggal sedikit.” Mengapa jatah makanan dan minumanku tinggal sedikit?” tanyanya dengat raut wajah kesal.
Dengan wajah polos seolah tidak melakukan kesalahan, Samosir menjawab.” Tadi di jalan aku sangat lapar, Ayah. Oleh karenanya, jatah makanan dan minuman ayah itu telah kumakan sebagian. Tapi, tidak semua kuhabiskan, bukan? Masih tersedia sedikit makanan dan minuman untuk Ayah.”
“anak tidak tahu diuntung.” Maki toba kepada anaknya. Kemarahan seketika meninggi. Serasa tidak bisa lagi dia menahan dan bersabar, umpatannyapun seketika itu meluncur.” Dasar anak keturunan ikan engkau ini.”
Samosir sangat terkejut mendengat umpatan ayahnya. Dia langsung berlari ke rumah. Pada saat bertemu ibunya, samosir langsung menceritakan umpatan dan cacian ayahnya yang menyebutkan dirinya adalah keturunan ikan.
Mendengar pengaduan anaknya, ibu Samosir menjadi sangat bersedih. Tidak disangka jika suaminya melanggar sumpah untuk tidak menyebutkannya berasal dari ikan.

Penduduk kemudian menamakan danau itu Danau Toba. Adapun pulau kecil yang berada ditengah-tengah danau toba itu disebut Pulau Samosir untuk mengingatkan kepada pada anak lelaki Toba.
Samosir dan ibunya saling berpoegangan. Dalam hitungan sekejap, keduanya menghilang. Keajaiban pun terjadi. Dibekas pijakan kaki Samosir dan ibunya menyembur air yang sangat deras. Dari dalam tanah, air laksana disemburkan keluar seolah tiada henti. 
Semakin lama tidak semkin berkuran semburan air itu melainkan semakin besar adanya. Dalam waktu cepat permukaan tanah itu pun tergenang. Permukaan air terus meninggi dan tek berapa lama kemudian lembah tempat tinggal Toba telah tergenang air. Terbentuklah kemudian sebuah danau yang sangat luas di tempat itu.
 

DONGENG Template by Ipietoon Cute Blog Design