Senin, 30 Mei 2016

Dongeng Timun Mas

Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri petani. Mereka tinggal di sebuah desa di dekat hutan. Mereka hidup bahagia. Sayangnya mereka belum saja dikaruniai seorang anak pun.
Setiap hari mereka berdoa pada Yang Maha Kuasa. Mereka berdoa agar segera diberi seorang anak. Suatu hari seorang raksasa melewati tempat tinggal mereka. Raksasa itu mendengar doa suami istri itu. Raksasa itu kemudian memberi mereka biji mentimun.
“Tanamlah biji ini. Nanti kau akan mendapatkan seorang anak perempuan,” kata Raksasa. “Terima kasih, Raksasa,” kata suami istri itu. “Tapi ada syaratnya. Pada usia 17 tahun anak itu harus kalian serahkan padaku,” sahut Raksasa. Suami istri itu sangat merindukan seorang anak. Karena itu tanpa berpikir panjang mereka setuju.
Suami istri petani itu kemudian menanam biji-biji mentimun itu. Setiap hari mereka merawat tanaman yang mulai tumbuh itu dengan sebaik mungkin. Berbulan-bulan kemudian tumbuhlah sebuah mentimun berwarna keemasan.
Buah mentimun itu semakin lama semakin besar dan berat. Ketika buah itu masak, mereka memetiknya. Dengan hati-hati mereka memotong buah itu. Betapa terkejutnya mereka, di dalam buah itu mereka menemukan bayi perempuan yang sangat cantik. Suami istri itu sangat bahagia. Mereka memberi nama bayi itu Timun Mas.
Tahun demi tahun berlalu. Timun Mas tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kedua orang tuanya sangat bangga padanya. Tapi mereka menjadi sangat takut. Karena pada ulang tahun Timun Mas yang ke-17, sang raksasa datang kembali. Raksasa itu menangih janji untuk mengambil Timun Mas.
Petani itu mencoba tenang. “Tunggulah sebentar. Timun Mas sedang bermain. Istriku akan memanggilnya,” katanya. Petani itu segera menemui anaknya. “Anakkku, ambillah ini,” katanya sambil menyerahkan sebuah kantung kain. “Ini akan menolongmu melawan Raksasa. Sekarang larilah secepat mungkin,” katanya. Maka Timun Mas pun segera melarikan diri.
Suami istri itu sedih atas kepergian Timun Mas. Tapi mereka tidak rela kalau anaknya menjadi santapan Raksasa. Raksasa menunggu cukup lama. Ia menjadi tak sabar. Ia tahu, telah dibohongi suami istri itu. Lalu ia pun menghancurkan pondok petani itu. Lalu ia mengejar Timun Mas ke hutan.
Raksasa segera berlari mengejar Timun Mas. Raksasa semakin dekat. Timun Mas segera mengambil segenggam garam dari kantung kainnya. Lalu garam itu ditaburkan ke arah Raksasa. Tiba-tiba sebuah laut yang luas pun terhampar. Raksasa terpaksa berenang dengan susah payah.
Timun Mas berlari lagi. Tapi kemudian Raksasa hampir berhasil menyusulnya. Timun Mas kembali mengambil benda ajaib dari kantungnya. Ia mengambil segenggam cabai. Cabai itu dilemparnya ke arah raksasa. Seketika pohon dengan ranting dan duri yang tajam memerangkap Raksasa. Raksasa berteriak kesakitan. Sementara Timun Mas berlari menyelamatkan diri.
Tapi Raksasa sungguh kuat. Ia lagi-lagi hampir menangkap Timun Mas. Maka Timun Mas pun mengeluarkan benda ajaib ketiga. Ia menebarkan biji-biji mentimun ajaib. Seketika tumbuhlah kebun mentimun yang sangat luas. Raksasa sangat letih dan kelaparan. Ia pun makan mentimun-mentimun yang segar itu dengan lahap. Karena terlalu banyak makan, Raksasa tertidur.
Timun Mas kembali melarikan diri. Ia berlari sekuat tenaga. Tapi lama kelamaan tenaganya habis. Lebih celaka lagi karena Raksasa terbangun dari tidurnya. Raksasa lagi-lagi hampir menangkapnya. Timun Mas sangat ketakutan. Ia pun melemparkan senjatanya yang terakhir, segenggam terasi udang. Lagi-lagi terjadi keajaiban. Sebuah danau lumpur yang luas terhampar. Raksasa terjerembab ke dalamnya. Tangannya hampir menggapai Timun Mas. Tapi danau lumpur itu menariknya ke dasar. Raksasa panik. Ia tak bisa bernapas, lalu tenggelam.
Timun Mas lega. Ia telah selamat. Timun Mas pun kembali ke rumah orang tuanya. Ayah dan Ibu Timun Mas senang sekali melihat Timun Mas selamat. Mereka menyambutnya. “Terima Kasih, Tuhan. Kau telah menyelamatkan anakku,” kata mereka gembira.
Sejak saat itu Timun Mas dapat hidup tenang bersama orang tuanya. Mereka dapat hidup bahagia tanpa ketakutan lagi.

Pendongeng Terkenal Indonesia (Part 2)

Nah sebelumnya udah aku posting tiga pendongeng terkenal Indonesia. Masih kurang ? Nah sekarang aku mau posting beberapa pendongeng asal Indonesia lagi nih. Yuk. . . Pantengin terus yah. . .

4. Kak Kusumo


Sejak kecil Kak Kusumo memang sudah tumbuh dan besar dalam buaian dongeng. Ayahnya R. Elang Sumawinata bin Pangeran Natagiri atau Pangeran Kusuma memang selalu menyempatkan diri untuk mendongeng di antara waktu senggangnya dan ketika anak-anaknya akan tidur.

Sumawinata tidak hanya sekedar mendongeng, namun juga menyelipkan nasehat-nasehat diantara cerita dongengnya yang sangat berguna untuk kehidupan anak-anaknya. Semakin besar Kak Kusumo, semakin besar pula kecintaannya kepada dongeng. Bahkan Kak Kusumo menciptakan tokoh dongeng bernama GASA (Garuda Perkasa), ia ciptakan GASA sebagai bentuk keprihatinan terhadap bangsa.

Baca Juga Profil Kak Kusumo

5. Kak Putri Suhendro


Sama seperti kak Rico, Kak Putri juga bukan seorang pendongeng pada awalnya. Sebelumnya Kak Putri berkecimpung di dunia Advertising, namun hati nuraninya ternyata menolak untuk tetap ada di dunia advertising. Sampai akhirnya ia diajak oleh seorang teman untuk bekerja di sebuah Radio.

Namun kak Putri juga tidak langsung mendongeng saat itu, dia hanya menjadi penyiar biasa yang menyajikan informasi untuk pendengar. Sampai akhirnya ia melihat bahwa tidak ada acara yang pantas untuk anak-anak, dari situlah ia mendongeng secara on-air di radio tempat ia bekerja. Tak disangka dongengnya mendapat respon postif dari anak-anak atau orang tua sebagai pendengar.

Baca Juga Profil Kak Putri Suhendro

6. Kak Awam


Kak Awam, dengan nama lengkapnya Mochammad Awam Prakoso adalah pria kelahiran Blora Jawa Tengah pada tanggal 18 Mei 1973 dan telah menekuni dunia dongeng dan dunia anak-anak sejak tahun 1999 dengan kemampuan menirukan berbagai jenis suara dan sangat kreatif dalam menyajikan pertunjukan dongeng.

Kak Awam kini telah memiliki jam terbang ribuan kali, baik memberikan dongengan, seminar, maupun Pelatihan Teknik Mendongeng di berbagai daerah di Indonesia. Tak Hanya Itu, Kak Awam juga memiliki segudang prestasi sejak awal dia memilih dongeng sebagai pekerjaannya.

Baca Juga Profil Kak Awam

Pendongeng Terkenal Indonesia (Part 1)

Haii.. Haii.. Sobat dongeng, dari kemarin kita cuma membahas dongeng dan bagaimana sejarah serta ceritanya. Nahh kali ini aku mau bahas tentang pendongeng asal Indonesia nih sobat. Yukk. . . Langsung aja yah aku mulai.

1.  Kak Rico


Menjadi seorang pedongeng ? Sebelumnya tidak pernah terpikir sedikitpun oleh kak Rico. Sebelumnya kak Rico berkecimpung di dunia teater. Ia telah mendirikan sanggar teater dan pernah menjadi pelatih teater di salah satu universitas di Jakarta.

Kecintaan kak Rico terhadap dongeng, bermula saat ia menerima tawaran seorang teman untuk mengikuti sebuah workshop bertema dongeng pada tahun 2004. Kak Rico menggunakan teknik dramatisasi / teaterikal, enerjik, ekspresif dan jenaka, sebagai teknik dia mendongeng.

Baca Juga Profil Kak Rico


2. Kak Ende Reza


Faiq Ende Reza atau lebih sering disapa Kak Ende Reza ini adalah salah satu pendongeng Indonesia dari Yogyakarta, dan telah memiliki jam terbang yang mumpuni dalam dunia pendongengan. Bukan hanya sukses sebagai pendongeng yang mapu memotivasi anak-anak.

Kak Ende Reza juga memiliki segudang prestasi. Bukan hanya dalam bidang dongeng namun juga pada bisang pantonim, komedi, motivasi, dan pembentukan karakter.

Baca Juga Profil Kak Ende Reza

3.Kak Seto



Siapa tak kenal dengan pria satu ini ? Dia adalah psikolog anak dan sekarang menjabat sebagai ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak. Sebagai psikolog anak, kak Seto yang memiliki nama lahir Seto Mulyadi ini menjadikan dongeng sebagai penghubung antara dirinya dan anak-anak.

Baca juga Profil Kak Seto


Minggu, 22 Mei 2016

Musang dan kelelawar

Seekor kelelawar tanpa sengaja masuk ke dalam sarang seekor musang yang dengan cepat menangkapnya. Sang Kelelawar memohon-mohon agar dilepaskan, tetap sang Musang tidak mau mendengarkannya.
"Kamu adalah seekor tikus," katanya, "dan Saya sangat membenci tikus. Setiap tikus yang saya tangkap, akan saya mangsa!"
Kelelawar yang tersesat dan Musang"Tapi saya bukan seekor tikus!" teriak sang Kelelawar. "Lihatlah sayapku, dapatkan seekor tikus terbang?, Saya adalah seekor burung! mohon lepaskanlah saya!"
Sang Musang mengakui bahwa sang Kelelawar bukanlah seekor tikus sehingga melepaskannya pergi. Tetapi beberapa hari kemudian, kelelawar yang malang ini, tersesat lagi ke dalam sarang musang yang lain. Dan kebetulan musang ini bermusuhan dengan burung. Sang Musangpun menangkap dan bersiap untuk memangsa sang Kelelawar.
"Kamu adalah seekor burung," katanya, "dan saya akan memangsa kamu!"
"Apa?" teriak sang Kelelawar, "Saya? adalah burung? Mengapa kamu berkata begitu? semua burung memiliki bulu! Saya tidak memiliki bulu karena saya adalah seekor tikus."
Akhirnya sang Kelelawarpun selamat dari bahaya untuk kedua kalinya.
Tempatkanlah layarmu kemanapun angin bertiup. Sesuaikan dirimu dengan kondisi yang kamu alami.

Sabtu, 21 Mei 2016

Dongeng Cincin di dalam perut ikan ( Karya : Joseph Jacobs)

Pada suatu masa, ada seorang baron (sebutan bangsawan Inggris) yang juga merupakan seorang yang menguasai ilmu sihir dan bisa meramalkan sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Suatu hari, ketika anaknya yang masih kecil berusia empat tahun, dia melihat ke dalam Buku Takdir untuk melihat apa yang akan terjadi di masa depan anaknya.
Si Gadis menemukan cicin di dalam perut ikan

Dia menjadi cemas saat dia mendapati kenyataan bahwa bahwa putranya kelak akan menikah dengan seorang gadis dari kalangan bawah yang baru saja lahir. Sang Baron pun mengetahui bahwa ayah dari gadis kecil itu sangatlah miskin, dan dia telah memiliki lima anak.
Secepatnya dia menunggang kudanya, dan berkuda menuju ke rumah pria miskin tersebut, dan saat dia mendekati rumah pria yang anaknya baru saja lahir, dia melihat pria ini duduk dekat pintu, dengan muka sedih dan muram.
Sang Baron pun turun, berjalan ke dekat pria yang bersedih itu, dan berkata, "Apa yang terjadi, wahai Bapak yang baik?"
Pria yang ditanya pun menjawab, "Yang Mulia, terus terang, aku telah memiliki lima orang anak, dan sekarang keenam yang baru saja lahir, seorang anak perempuan. Di mana aku bisa mendapatkan roti untuk untuk mengisi perut mereka, aku tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan."
"Jangan berputus asa, Bapak yang baik," kata sang Baron. "Jika hanya itu masalah Anda, aku dapat membantu Anda. Kebetulan aku sedang mencari anak perempuan kecil agar ada yang menemani anak saya nantinya, jika Anda berkenan, Aku akan memberikan anda 10 keping emas sebagai gantinya."
"Terima kasih banyak, Yang Mulia," kata pria itu dengan gembira karena selain mendapatkan uang, bayi perempuannya yang baru lahir akan mendapatkan rumah yang layak, karena itu dia lalu masuk ke dalam rumah serta keluar kembali sambil membawa bayi kecil yang baru lahir. Dia lalu menyerahkannya kepada sang Baron, yang membungkusnya dengan jubahnya lalu menaiki kudanya dan pergi bersama bayi tersebut. Tetapi sesampainya di pinggiran sebuah sungai, dia membuang bayi tersebut ke sungai yang mengalir deras, lalu berkata sambil berkuda untuk pulang ke kastilnya:
"Pergilah bersama takdirmu!"
Tetapi gadis kecil itu tidak tenggelam, jubah yang membungkus tubuh bayi itu menahannya agar tidak tenggelam untuk sementara waktu, dan dia pun terapung-apung di sungai, hingga akhirnya terdampar di depan sebuah gubuk nelayan yang saat itu sedang memperbaiki jalanya. Nelayan dan istrinya ini tidak memiliki anak dan mereka sangat menginginkan kehadiran seorang anak. Saat nelayan tersebut melihat bayi kecil yang terdampar, ia menjadi sangat bahagia dan membawanya pulang untuk diperlihatkan kepada istrinya, yang menerima bayi tersebut dengan tangan terbuka.
Di sanalah bayi tersebut menetap hingga berusia dewasa, dan bayi tersebut tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Pada suatu hari, sang Baron pergi berburu dengan beberapa orang sahabatnya di sepanjang tepi Sungai Ouse, dan berhenti di sebuah gubuk nelayan untuk minum.
Seorang gadis yang sangat cantik keluar untuk memberikan air minum kepada mereka. Sahabat-sahabat sang Baron kagum saat melihat kecantikan gadis itu, dan salah satu di antara mereka berkata kepada Baron, "Baron, Anda dapat meramal nasib, coba ramalkan nasib gadis itu, kira-kira dia akan menikah dengan siapa?"
"Oh, itu tidaklah sulit," jawab sang Baron. "Aku akan mencoba meramal nasibnya. Mendekatlah ke sini, Anakku, dan katakanlah, kamu dilahirkan pada hari apa?"
"Aku tidak tahu, Yang Mulia," jawab si Gadis itu. "Aku ditemukan di sini setelah terbawa oleh arus sungai sekitar lima belas tahun yang lalu."
Seketika itu juga sang Baron mengetahui siapa sebenarnya si Gadis ini, dan ketika mereka beranjak pergi dari gubuk nelayan, dia memutar kembali dan berkata kepada si Gadis itu, "Aku akan memperbaiki keberuntunganmu. Ambil dan bawalah surat ini kepada saudaraku di Scarborough, dan kamu akan mendapatkan balasan yang cukup untuk menghidupi diri kamu seumur hidup."
Si Gadis itu pun mengambil surat tersebut dan berjanji akan mengantarkannya. Tetapi gadis itu tidak menyadari bahwa isi surat itu berbunyi seperti ini:
"Saudaraku tercinta, binasakanlah pembawa surat ini!
Salamku,
Albert."
Tanpa mengetahui isi surat tersebut, si Gadis segera berangkat menuju ke Scarborough, dan di tengah perjalanan dia bermalam di sebuah penginapan kecil. Namun, malam itu sekawanan perampok masuk ke penginapan dan mencari harta dari tamu-tamu penginapan. Mereka menggeledah kantung dan saku para tamu, dan mereka menemukan surat yang di bawa oleh si Gadis.
Saat perampok tersebut membuka dan membaca surat sang Baron, mereka menjadi iba terhadap nasib si Gadis dan menganggap rencana Baron itu sangatlah kejam. Pimpinan kawanan perampok itu pun mengambil pena dan kertas lalu menulis surat yang bunyinya:
"Saudaraku tercinta, nikahkanlah pembawa surat ini dengan putraku segera!
Salamku,
Albert."
Kemudian surat tersebut di segel ulang dan dikembalikan kepada si Gadis itu, dan menyuruhnya untuk melanjutkan perjalanan. Dia pun berangkat menuju kastil saudara sang Baron di Scarborough, di mana putra sang Baron menginap. Ketika dia memberikan surat kepada saudara sang Baron, saudara sang Baron langsung menyiapkan pernikahan pada hari itu juga. Putra sang Baron, saat melihat gadis cantik ini, langsung jatuh cinta dan tidak membantah untuk dinikahkan.
Ketika kabar pernikahan mereka sampai di telinga sang Baron, dia merasa bahwa itu sudah menjadi takdir, tetapi sang Baron masih merasa keras kepala dan tidak mau menerima takdir itu begitu saja. Dia pun langsung berangkat dengan tergesa-gesa menuju ke kastil saudaranya dan saat dia tiba, dia berpura-pura senang dengan pernikahan tersebut. Suatu hari, ia meminta agar si Gadis menemani dia berjalan-jalan di sepanjang tebing pinggiran laut.
Saat si Gadis tiba di dekat tebing, sang Baron memegang tangannya dan akan mendorong gadis tersebut ke pinggiran tebing. Tetapi gadis tersebut memohon agar sang Baron menaruh belas kasihan kepadanya, dan membiarkannya untuk tetap hidup.
"Aku tidak melakukan kesalahan apapun juga," ujarnya. "Jika Anda mengampuni aku, maka aku akan melakukan apapun yang Anda inginkan, aku tidak akan pernah melihat Anda atau anak Anda lagi kecuali Anda menginginkannya."
Kemudian sang Baron pun melepaskan cincin emasnya dan melemparkannya ke laut, sambil berkata, "Aku tidak mau melihat wajahmu lagi, hingga kamu bisa memperlihatkan cincin itu kepadaku," seru sang Baron sembari membiarkan si Gadis berlalu dengan airmata berlinang.
Gadis malang itu menjadi sangat sedih, dan berjalan terus menerus hingga akhirnya tiba di sebuah kastil besar. Dia pun memohon untuk diterima bekerja di kastil itu. Orang-orang di kastil menerima si Gadis itu, dan mempekerjakannya sebagai juru masak istana karena dia telah terbiasa melakukan pekerjaan tersebut saat tinggal di gubuk ayah angkatnya yang nelayan.
Pada suatu hari, si Gadis kebetulan melihat tamu-tamu yang datang ke kastil, dan dia sangat terkejut saat melihat beberapa tamu tersebut tidak lain adalah sang Baron, saudara sang Baron, dan putra sang Baron yang juga merupakan suaminya. Si Gadis bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, berdasarkan janjinya, dia seharusnya pergi dan menghindar. Tetapi akhirnya dia berkesimpulan bahwa mereka tidak akan melihatnya di dapur kastil sehingga perasaannya menjadi sedikit lega, dan melanjutkan pekerjaannya sambil menghela napas panjang.
Dia pun mulai membersihkan ikan besar yang akan direbus untuk dijadikan menu hidangan makan malam. Saat dia sedang membersihkan ikan itu, dia melihat sesuatu yang bersinar di dalamnya, dan apa yang dia temukan di dalam perut ikan? Tidak lain adalah cincin emas sang Baron yang dilemparkan oleh sang Baron dari pinggir tebing. Si Gadis sangat girang melihat cincin tersebut, kemudian dia pun memasak ikan selezat mungkin untuk disajikan nanti.
Saat hidangan ikan disajikan di atas meja, para tamu sangat menyukainya sehingga mereka ingin sekali bertemu dengan orang yang memasak ikan tersebut. Pelayan pun memanggil si Gadis untuk datang ke hadapan sang Baron. Si Gadis kemudian membersihkan badannya dan merapikan penampilannya, serta memakai cincin emas milik sang Baron pada ibu jarinya, lalu naik ke aula untuk menghadap para tamu yang ingin melihatnya.
Ketika para tamu melihat bahwa yang memasak ikan tersebut adalah seorang gadis yang sangat cantik, mereka pun menjadi terkejut dan terpukau. Putra sang Baron sangat gembira melihat kehadiran istrinya, tetapi Sang Baron yang melihat gadis itu, menjadi sangat marah dan bergerak hendak memukul si Gadis. Tanpa mengucapkan sepatah kata, gadis itu mengangkat dan memperlihatkan jari tangannya yang memakai cincin emas ke hadapan sang Baron, lalu dia membuka cincin tersebut serta meletakkannya di atas meja.
Akhirnya sang Baron menyadari bahwa tidak ada yang mampu melawan dan mengubah takdir, dan dia pun memegang tangan si Gadis, lalu mengumumkan kepada seluruh tamu yang hadir bahwa si Gadis adalah istri dari putranya.
"Ini adalah istri dari putraku. Marilah kita minum untuk menghormatinya." kata sang Baron.
Saat selesai makan, Sang Baron pun mengajak si Gadis untuk ikut bersama putranya pulang ke kastilnya, dan di sanalah si Gadis bersama suaminya hidup berbahagia selamanya.

Jumat, 20 Mei 2016

Dongeng Pinokio

Di suatu kota, ada sebuah toko milik kakek Gepeto pembuat boneka. Ia tinggal seorang diri. "Alangkah senangnya kalau boneka manis ini menjadi seorang anak," gumamnya.

Setelah kakek berbisik demikian, terjadi satu keajaiban. "Selamat siang, Papa." Boneka itu berbicara dan mulai berjalan. Dengan amat gembira, kakek berkata, "Mulai hari ini, engkau anakku. Kau kuberi nama Pinokio. Agar kau menjadi anak pintar, besok kau mulai sekolah, ya!"

Keesokan paginya, Kakek Gepeto menjual pakaiannya dan dengan uang itu ia membelikan Pinokio sebuah buku ABC. "Belajarlah baik-baik dengan buku ini!"

"Terima kasih, Papa. Aku pergi sekolah, dan akan belajar dengan giat."

"Hati-hati ya!" pesan kakek Gepeto. Tetapi, dari arah yang berlawanan dengan sekolahnya terdengar suara, "Drum, dum, dum, dum." Ketika Pinokio mendekat ternyata itu adalah tenda sandiwara boneka. Pinokio lalu menjual buku ABC-nya, membeli karcis dengan uang itu dan masuk ke dalam tenda sandiwara, sebuah boneka anak perempuan akan telah dikepung prajurit berpedang. "Lihat! Jahat sekali prajurit itu!" 

Pinokio naik panggung dan menerjang boneka prajurit. Tali boneka itu putus dan jatuhlah boneka itu. Pemilik sandiwara yang marah segera menangkap Pinokio dan akan melemparnya ke api.
"Maafkan aku. Kalau aku dibakar, kasihan papa yang sudah tua," kata Pinokio. "Aku berjanji pada papa untuk belajar di sekolah dengan rajin." Karena iba, pemilik sandiwara melepaskan Pinokio dan memberinya beberapa keping uang. "Gunakan uang ini untuk membeli buku-buku pelajaranmu," kata pemilik sandiwara tersebut.
Kemudian Pinokio pergi untuk membeli buku. Tetapi di tengah jalan, Rubah dan Kucing melihat keadaan itu. Mereka menyapa Pinokio dengan ramah. "Selamat siang, Pinokio yang baik. Kalau uang emas itu bertambah banyak, pasti papamu lebih senang, ya!"
"Bagaimana cara menambah uang emas ini?" tanya Pinokio.
"Gampang. Kau bisa menanamnya di bawah pohon ajaib. Lalu tidurlah, maka pada saat kau bangun nanti, pohon itu akan berbuah banyak sekali uang emas."
Kemudian Pinokio diantar Rubah dan Kucing menanam uang emasnya di bawah pohon ajaib. Ketika Pinokio mulai tidur siang. Rubah dan Kucing menggali uang emas itu dan menggantung Pinokio di pohon setelah itu mereka pergi.
"Tolong!...," teriak Pinokio ketika sudah bangun dari tidurnya dan mengetahui dirinya tergantung di sebuah pohon. Seorang Dewi yang melihat keadaan Pinokio, mengutus burung elang menolongnya. Burung elang membawa Pinokio dengan paruhnya, dan membawanya ke ruangan di mana Dewi telah menunggu. Dewi menidurkan Pinokio di tempat tidur dan memberinya obat.

"Nah, minumlah obat ini maka kau akan cepat sembuh. Setelah itu pulang, ya!" kata Dewi.
"Lebih baik mati daripada minum obat yang pahit." Pinokio terus menolak.
Akhirnya Dewi menjadi marah, "Plak plak!" Ia menampar. Lalu datanglah empat ekor kelinci yang menggotong peti mati. Pinokio terkejut sekali, cepat-cepat ia meminum obat yang pahit itu.
"Pinokio, mengapa kau tidak pergi ke seolah?" tanya Dewi.
"Hmm.. di jalan, aku menjual buku-ku untuk anak miskin yang kelaparan dan membelikannya roti. Karena itu, aku tidak bisa pergi ke sekolah." Tiba-tiba saja syuut hidung Pinokio mulai memanjang.
"Pinokio! Kalau kau berbohong, hidungmu akan memanjang sampai ke langit."
"Maafkan aku. Aku tak akan berbohong lagi." Pinokio meminta maaf. Dewi tersenyum, dan memerintahkan burung pelatuk mematuki hidung Pinokio, mengembalikannya ke bentuk semula. "Ayo cepat kembali ke rumah, dan belajar ke sekolah!"

Di tengah perjalanan pulang, Pinokio bertemu dengan kereta dunia bermain. Pinokio tidak bisa menahan diri untuk tidak naik. Pinokio telah lupa akan janjinya pada Dewi, setiap hari ia hanya bermain-main.

Pada suatu hari, Pinokio terkejut melihat wajahnya yang terpantul di permukaan air. "Ah! Telingaku jadi telinga keledai! Aku pun berbuntut!" teriaknya. Ternyata anak-anak lain pun telah menjadi keledai. Akhirnya Pinokio pun menjadi seekor keledai dan dijual ke sirkus. Pinokio telah melanggar janjinya kepada Dewi, maka ia mendapat hukuman.

Setiap hari ia dipecut dan harus melompati lingkaran api yang panas. Walaupun takut, Pinokio tetap meloncat. Akhirnya ia terjatuh sampai kakinya patah.

Pemilik sirkus menjadi marah. "Keledai dungu! Lebih baik dibuang ke laut." Kemudian Pinokio dilempar ke laut. Blup blup blup Pinokio tenggelam ke dasar laut, ikan-ikan datang menggigitnya. Lalu kulit keledai terlepas, dan dari dalamnya muncul si Pinokio. "Terima kasih ikan-ikan."

Sebenarnya Dewi melihat bahwa Pinokio telah menyadari kesalahannya dan memerintahkan ikan-ikan untuk menolongnya. Sambil berenang, Pinokio berjanji dalam hati, "Kali ini setelah aku pulang ke rumah, aku akan ke sekolah dan belajar dengan giat. Aku juga akan membantu pekerjaan di rumah dan menjaga papa."

Pada saat itu Hrrr, seekor ikan hiu besar datang mendekat dengan suara yang menyeramkan. "Haaa! Tolong." Pinokio ditelan ikan hiu yang besar itu. Dalam perut hiu benar-benar gelap gulita. Tetapi, di kejauhan terlihat seberkas sinar. Ternyata itu adalah kakek Gepeto.

"Papa!"

"Pinokio!"
Mereka berdua saling berpelukan. "Aku pergi ke laut untuk mencarimu, dan aku ditelan hiu ini. Tapi, ternyata di sini aku bertemu denganmu. Untung kita selamat!"
"Ayo, kita keluar dari sini!"
"Badanku sudah lemah. Kau saja yang pergi," ucap kakek.
"Aku tidak mau kalau tidak bersama-sama Papa." Ketika ikan hiu sedang tidur, Pinokio melarikan diri dari mulut hiu dengan menggendong kakek Gepeto di punggungnya. Dengan sekuat tenaga ia berenang sampai akhirnya tiba di pantai. Mereka menyewa sebuah pondok petani terdekat. Sambil merawat kakek, Pinokio bekerja setiap hari. Akhirnya, kakek menjadi sehat kembali.
"Pinokio, karena kaulah aku jadi sehat seperti ini. Terima kasih ya!"

"Papa, mulai sekarang aku akan lebih menurut lagi." Tiba-tiba saja sekeliling mereka menjadi bersinar terang.
"Pinokio, kau telah menjadi seorang anak yang baik." Dewi muncul, dan mengubah Pinokio si boneka menjadi seorang anak manusia.

Kamis, 19 Mei 2016

Pinokio


Anak kayu itu pertama kali diperkenalkan pada 7 Juli 1881 dalam bentuk serial dengan judul cerita un burattino La Storia (Story of a Marionette). Cerita ini sangat populer di kalangan pembaca majalah anak-anak Italia hingga dua tahun kemudian diterbitkan dalam bentuk buku. Ketika itu muncul dalam bentuk buku, Carlo Collodi Pinocchio mengubah judul untuk petualangan. Sejak itu, novel ini diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan dikutip dalam bentuk teater, animasi, dan film.Seorang ahli komputer, Alessandro Vegni membandingkan cerita dengan peta sejarah yang dibuat pada saat Pinokio. Bahkan, cerita ini ternyata terinspirasi dari sebuah desa yang terletak di daerah antara Pisa dan Florence (Italia). Desa itu dinamai San Miniato Basso yang juga memiliki nama asli, Pinocchio (nama sebuah sungai di desa). Penduduk asli dijuluki Pinocchi atau Pinocchini. Kebetulan, ayah dari penulis boneka ini adalah koki terkenal yang tinggal di daerah.
Alessandro Vegni yakin banyak karakter dari cerita Pinocchio terinspirasi dari San Miniato Basso. Di desa, ada Casa il Grillo atau jangkrik rumah. Bangunan ini dianggap sebagai inspirasi karakter Jimmy Cricket yang dapat berbicara. Ingat kucing dan karakter rubah yang menculik Pinocchio? Rupanya, karakter berasal dari nama Rio Delle Volpi (Fox River) bahwa ada dua rumah di dekatnya dijuluki Rigatti (Rumah Kucing-Kucing). Di dekatnya, ada sebuah desa bernama La Lisca yang berarti Fish Bone. Vegni inspriasi menduga ini menjadi kisah Pinokio ditelan ikan paus.
Namun, ada studi lain dari Asosiasi Pinokio tentang fakta-fakta. Menurut mereka, cerita latar belakang Pinocchio di sebuah kota kecil antara Florence dan Castello. Pada saat itu, penulis Carlo Collodi sedang berlibur di musim panas Castello. Dia bertemu Giovanna Ragioneri, sedikit pirang gadis bermata biru. Ini adalah gadis yang menginspirasi karakter Peri Biru

Rabu, 18 Mei 2016

Dongeng Little Red Riding Hood (Si kerudung merah)

Matahari menyapa bumi pada pagi yang cerah. Di sebuah desa kecil yang indah di pinggir hutan, terdengar alunan nada merdu dari nyanyian seorang gadis kecil. Ini adalah hari ulang tahunnya, itu sebabnya ia terlihat amat bahagia.

“Kado!, aku harus meminta kado ulang tahunku kepada ibu.” Si gadis kecil itu menjentikkan jarinya ketika dalam benaknya tersirat sebuah hadiah yang akan ia dapatkan dari ibunya.

“Ibu, mana kado ulang tahun untukku?.” Dengan manja, gadis kecil itu meminta hadiah ulang tahun dari ibunya yang saat itu sedang membuat kue di dapur.

“Ibu punya hadiah istimewa buat kamu sayang.” Jawab sang ibu lembut dengan penuh senyum sambil sesekali mengaduk adonan kue yang belum matang.

“Sebentar, masakan kue ibu hampir selesai.” Si gadis kecil itu dengan sabar menunggu sang ibu menyelesaikan pekerjaannya.

“Ayo sayang, kita ke kamar.” Ibupun mengajak gadis kecilnya ke kamar untuk memberikannya hadiah. Si gadis kecil terlihat sangat tidak sabar untuk melihat hadiah yang akan ia dapatkan dari ibunya.

Sebuah kotak kecil yang dilapisi dengan bungkus kado berwarna merah, sekarang sudah berada di tangan si gadis kecil yang manis itu. Warna merah adalah warna kesukaannya. Dengan sangat hati-hati, si gadis kecil itu membuka kotak berwarna merah tersebut. Hadiah yang ia dapatkan dari ibunya yang tersayang.

“Waahh kerudung berwarna merah!. Aku suka sekali ibu. Terima kasih ibuku sayang.” Dengan penuh kebahagiaan, gadis kecil itu mencium dan memeluk ibunya.
“Aku akan selalu memakai kerudung ini ibu.” Sejak saat itu, si gadis kecil dikenal dengan nama “Gadis berkerudung Merah.”

-0-

Pada suatu sore, ibu meminta kepada gadis berkerudung merah untuk mengunjungi neneknya yang sedang sakit. Jalan ke rumah nenek sangat jauh dan berbahaya. Banyak binatang buas yang berkeliaran. Harus memasuki hutan agar cepat sampai ke rumah nenek. Tapi dengan senang hati, gadis kerudung merah menuruti perkataan sang ibu dan mau mengunjungi nenek di rumahnya dengan membawa kue-kue yang enak buatan ibu.

“Di hutan sana sangat berbahaya sayang. Kamu harus hati-hati dan cepat sampai ke rumah nenek. Hari sudah sore.” Ucap sang ibu dengan sangat lembut.

“Dan ingat!. Kamu tidak boleh berbicara dengan siapapun. Tidak boleh berbicara dengan orang asing yang tidak kamu kenal.” Lanjutnya.

“Iya ibu, aku pergi dulu ya bu, dadaah ibu.” Dengan ceria, gadis berkerudung merah itu meninggalkan rumah menuju rumah neneknya.

Gadis berkerudung merah sangat ceria dan menikmati perjalanannya. Ia terus bernyanyi-nyanyi riang sambil berjalan. Melewati bunga-bunga yang indah. Hingga ia lupa dengan pesan sang ibu.Tiba di hutan, ada seseorang yang datang dari balik pohon menghampiri si gadis berkerudung merah.

“Hai gadis berkerudung merah, mau kemana kau?.” Tanya orang itu.
“Aku mau menjenguk nenek dan memberikan kue ini.” Jawab si gadis berkerudung merah. Ia lupa akan pesan ibunya bahwa ia tidak boleh berbicara kepada orang asing yang tidak ia kenal.

-0-

Sampailah si gadis berkerudung merah ke rumah neneknya.
“Ibu bilang, nenek sedang sakit. Aku tidak boleh mengganggu nenek. Lebih baik aku langsung masuk saja dan pergi ke kamar nenek.” Ucap si gadis berkerudung merah dalam hatinya.
Akhirnya, gadis berkerudung merahpun memasuki kamar nenek. Dan ia mendapati neneknya sedang berbaring di ranjangnya.

“Hai sayangku, rupanya kamu sudah sampai. Sini sayang, duduk di samping nenek.” Ucap sang nenek.

“Nek, kenapa suara nenek berubah?.” Tanya si gadis berkerudung merah.“Ooh ini karna tenggorokan nenek sedang sakit.” Jawabnya.“Tapi nek, kenapa telinga nenek menjadi sangat besar?.”“Ini agar nenek bisa mendengar suaramu yang indah itu dengan baik.”“Tapi, kenapa mata nenek jadi besar sekali?.”“Ini supaya nenek bisa melihatmu dengan baik sayang.”“Terus, kenapa gigi nenek sangat besar dan runcing?.”“Ini, supaya aku bisa memakanmu. Hahahaaaa.”

Ternyata, yang dianggap nenek oleh gadis berkerudung merah ini adalah seekor srigala buas yang suka memakan manusia. Dia telah melahap sang nenek. Gadis berkerudung merah teriak meminta tolong. Dan akhirnya, srigala memakannya juga.

Tapi tidak lama setelah itu, datang penjaga hutan yang mendengar teriakan dari arah rumah nenek. Ia mendapati srigala sedang berbaring dengan perut yang gendut. Sang penjaga hutanpun lalu menangkap srigala itu dan membelah perut srigala tersebut.Akhirnya gadis berkerudung merah dan nenek selamat dan tidak mati di dalam perut srigala.

TAMAT

Selasa, 17 Mei 2016

Si Krudung Merah dan Serigala Jahat

Si kerudung merah adalah dongeng yang sudah terkenal di Indonesia. Cerita si Krudung merah ini sebenarnya berasal dari Eropa tepatnya di Prancis yang di tulis oleh Charles Perrault dengan judul Little Red Riding Hood. Dongeng ini pertama kali di publikasikan pada abad 17-an.

Little Red Riding Hood atau di Indonesia lebih dikenal dengan judul Si Kerudung merah dan Serigala jahat memiliki nasib yang sama dengan dongeng Winnie The Pooh. Dongeng ini juga diadaptasi oleh rumah produksi Walt Disney. Namun dengan sedikit perubahan cerita dengan pertimbangan untuk menyuguhkan nontonan kartun yang layak bagi anak-anak.

Dalam dongeng ini berkisah tentang gadis kecil bernama Little Red Riding Hood (karena dia suka mengenakan kerudung merah) yang disuruh oleh ibunya untuk membesuk neneknya yang tinggal di tengah hutan dan sedang sakit. Gadis itupun pergi kedalam hutan sambil membawa makanan yang dibuat oleh ibunya.

Namun dalam perjalanannya gadis kerudung merah bertemu dengan serigala. Serigala tersebut ingin memakan si krudung merah tanpa terlihat mencurigakan. Akhirnya serigala mengajak gadis tersebut bicara dan menyarankan untuk memetik beberapa bunga sebelum ke rumah neneknya. Dengan polosnya si gadis kerudung merahpun mengikuti saran serigala.

Serigala yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan langsung pergi ke rumah nenek dan berpura-pura menjadi gadis kerudung merah. Dan mengunci si nenek di dalam lemari, sehingga serigala bisa berpura-pura menjadi nenek kerudung merah. Ketika gadis kerudung merah datang, sebenarnya ia curiga dengan neneknya yang terlihat tidak seperti biasanya. Serigala pun langsung memakan gadis kerudung merah.

Dongeng Little Red Riding Hood yang asli hanya berakhir sampai disitu, namun ternyata dongeng ini  juga ditulis ulang oleh Brother Grimms dan beberapa penulis lain di Perancis dan German. Dalam beberapa versi ditambahkan kisah pemburu dan penebang kayu. Nasib si nenek juga ditulis ikut dimakan oleh Serigala.

Adanya pemburu atau penebang kayu, adalah untuk menolong gadis kerudung merah dan si nenek. Setelah kenyang Serigala tertidur pulas, saat itulah penebang kayu atau pemburu datang menyelamatkan gadis kerudung merah dan si nenek dengan cara membuka perut serigala.

Saat si krudung merah dan neneknya berhasil keluar maka mereka dibantu penebang kayu memasukan batu-bata kedalam perut serigala, sampai-sampai serigala tidak bisa berjaan dan akhirnya mati.

Senin, 16 Mei 2016

Karakter Winnie The Pooh and Friends


Winnie the Pooh adalah beruang emas kecil, memiliki tinggi tubuh sekitar 22 inci.
Memiliki sedikit otak dan memakai baju warna merah tua.
Karakter :
1. Sering melakukan hal-hal konyol .
2. Suka mamakan madu .
3. Suka bertualang dipagi hari .



Piglet adalah babi merah muda yang sangat kecil dan suka makan jagung jerami .
Karakter :
1. Pemalu .
2. Sering cemas dan gelisah .
3. Suka berpetualang .
4. Suka warna cerah .
5. Suka balon .
6. Suka dengan bunga dandelion yang bertiup .


Tigger adalah hewan yang suka melenting, menyerupai harimau.
Mempunyai tinggi sekitar 23 inci. Mudah dikenali karena mempunyai garis-garis hitam dan jeruk, ekor kenyal, dagu panjang, dan mata bulat.
Karakter :
1. Periang .
2. Senang melompat kesana kemari .
3. Hiperaktif ( tidak bisa diam )



Eeyore adalah seekor keledai berwarna biru keabu-abuan, dengan tinggi sekitar 18 inci dan panjang 27 inci. Dia berulang tahun pada tanggal 10 Mei.
Karakter :
1. Cerdas .
2. Suka murung .
3. Suka mengambang diatas air .
4. Tidak banyak bicara ( pendiam ) .
5. Suka makan rumput berduri .
6. Suka dengan tanaman .
7. Suka membantu temannya .
8. Penyayang binatang .
9. Tidak suka mengingat hari ulang tahunnya .
10. Tidak suka tali ekornya lepas .
11. Tidak suka jika rumahnya ambruk .



Rabbit adalah kelinci yang memiliki otak.
Makanan favoritnya adalah wortel dan sayuran, ia membuat satu titik untuk menghindari pooh selama waktu makan siang.
Karakter :
1. Suka kerapian .
2. Teratur .
3. Suka memimpin kegiatan .
4. Cerewet .


Gopher adalah bagian dari cerita asli dan puisi yang ditulis oleh A.A milne.
Memiliki tinggi 15 inci .
Karakter :
1. Ahli tukang batu .
2. builder .
3. suka menggalian .
4. demolition .


Kanga adalah karakter perempuan tunggal di dalam cerita Winnie the pooh.
Memiliki tinggi 30 inci.
Karakter :
1. Suka membawa keluarganya disakunya .



Owl adalah burung hantu besar yang berdiri hampir 28 inci dan menyebar sayapnya 42 inci.
Suka bercerita tentang sanak saudaranya.
Karakter :
1. Paling bijak .
2. Suka menyombongkan dirinya .
3. Selalu datang menawarkan nasihat .
4. Narsistik ( mencintai diri sendiri secara berlebihan ) .



Robin adalah satu-satunya tokoh manusia yang diduga mengalami gangguan psikis schizophrenia. Dimana penderitanya hidup didunianya sendiri dan merasakan kehadiran tokoh karangannya.
Karakter :
1. Suka membantu pooh mengumpulkan madu .
2. Suka makan kue .
3. Suka membantu teman .

Jumat, 13 Mei 2016

Sejarah Winnie The Pooh


Siapa sih yang tak kenal dengan tokoh-tokoh diatas "Winnie The Pooh and friends". Serial kartun ini diproduksi oleh Disney pada tahun 1960an. Tapi, tau kah kamu bahwa Winnie the pooh awalnya bukanlah kartun, tetapi dongeng yang ditulis oleh Alan Alexander Milne.

A.A. Milne terinspirasi dari boneka anaknya  Christoper Rubin Milne. Yang semakin diperkuat ketika A.A Milne dan anaknya pergi ke kebun binatang di London dan melihat ada beruang hitam yang lucu dengan nama Winniepeg.

Nama Winniepeg diambil dari nama kota dia berasal, dari situlah karakter Winnie muncul sebagai nama pendek Winniepeg. Sedangkan nama Pooh berasal dari  nama angsa di kebun binatang itu juga.

Cerita Winnie-the-Pooh mulai ditulis A. A Milne di rumahnya, Ashdown Forest, Sussex Timur, Inggris. Bab pertama Winnie-the-Pooh mulai dipublikasikan pada tahun 1925 yang dikemas dalam bentuk cerita natal di London's Evening News.

Satu tahun kemudian, cerita A.A Milne dengan karakter Winnie-the-Pooh beredar dalam bentuk buku "Winnie-The pooh" terbitan Methuen & Co.Ltd. Pada tahun 1928 terbit dalam judul "The House at Pooh Corner". Kemudian ada berapa puisi tentang Winnie-the-Pooh dalam buku cerita anak-anak yang berjudul "When We Were Very Young" dan "Now We Are Six". Keempat buku tersebut terdapat gambar ilustrasi cerita yang digambar oleh E. H. Shepard.

Pada tahun 1930, lisensi karakter Winne-the-Pooh dipegang oleh Stephen Slesinger. Karakter Pooh pun berkembang menjadi industri lisensi yang moderen. Kemudian pada tahun 1933, untuk pertama kalinya karakter Winney-the Pooh dan kawan-kawan tampil berwarna. Slesinger memberikan warna merah pada kaos Pooh. Selama 20 tahun, Slesinger memasarkan Pooh dan kawan-kawannya.

Setelah Slesinger meninggal usahanya dilanjutkan oleh sang instri, Shirley Slesinger Laswell. Barulah pada tahun 1961, lisensi Winnie-the-Pooh dipegang oleh Disney setelah Shirley menjual royaltinya ke Disney. Sejak tahun 1966 munculnya film Winnie-the-Pooh dan kawan-kawan yang diproduksi oleh Disney. Kini karakter Winnie-the-Pooh yang sangat menyukai madu makin mendunia dengan ragam cerita dan animasi yang sangat menarik.

Kamis, 12 Mei 2016

Dongeng Singkat Asal-Usul Gunung Bromo

Di sebuah desa tak jauh dari gunung Bromo, hiduplah seorang gadis yang cantik jelita. Namanya Rara Anteng. Konon, ketika gadis itu di lahirkan, tidak menangis seperti bayi pada umumnya. Oleh karena itu, ia dinamakan Rara Anteng. Kata orang Jawa anteng artinya tidak banyak bergerak atau tenang.

Banyak jejaka yang melamar Rara Anteng, tetapi semuanya ditolak. Tersebutlah seorang raksasa yang buruk mukanya lagi bengis. Matanya besar sekali. Kumis, janggut, dan cambangnya amat lebat. Raksasa itu pun melamar Rara Anteng. Rara Anteng takut sekali, ia takut menyatakan penolakannya karena raksasa itu pasti akan marah.

Kata Rara Anteng, "Hai raksasa, aku mau kau persunting, asalkan kau bersedia memenuhi permintaanku!"

"Ha, ha, ha,... !" tawa raksasa itu menggelegar. "Katakan cepat, permintaanmu pasti akan ku laksanakan!"

"Ubahlah gunung Bromo ini menjadi sebuah danau yang harus kau selesaikan dalam waktu semalam" kata Rara Anteng. "Sebelum fajar menyingsing dan sebelum ayam jantan berkokok, danau itu harus sudah kau siapkan agar dapat ku pakai mandi".

Rara Anteng berpikir raksasa itu tidak mungkin melaksanakan permintaannya dalam waktu yang sesingkat itu.

Tanpa banyak bicara, raksasa itu mulai bekerja. Ia menggali danau di sekitar gunung bromo itu saja. Dengan sebuah batok atau tempurung yang cukup besar, ia melempar tanah dan batu-batu. Sepanjang malam terdengar bunyi gemuruh. Pohon-pohon di hutan itu sebatang demi sebatang di cabuti dan di lemparkan ke laut Selatan. Binatang-binatang buas pun lari ketakutan.

Rara Anteng amat gelisah. Ternyata raksasa itu amat giat. Malam masih panjang, tetapi pekerjaan raksasa itu hampir selesai. Rara Anteng mencari akal. Hari masih malam, di luar gelap pekat. Dengan tergopoh-gopoh Rara Anteng pergi ke lumbung. Ia mengambil alu, lalu mulai menumbuk padi. Perempuan-perembuan desa bangun semuanya. Mereka pun ikut menumbuk padi.

Mendengan suara orang-orang menumbuk padi itu ayam-ayam jantan pun terkejut. Ayam jantan di seluruh desa pun berkokok bersahut-sahutan.

Alangkah terkejutnya raksasa itu mendengar ayam jantan berkokok dan bunyi alu yang berdentang-dentang. Ia bangkit  memandang ke arah timur. Ternyata hari masih gelap. Ia juga tidak melihat sinar matahari pada waktu fajar.

Tinggal sebatok lagi tanah galian yang harus di pindahkan. Tubuh raksasa itu tiba-tiba menjadi lemas. Tak kuasa ia melemparkan batok penuh gaalian tanah yang terakhir. Robohlah raksasa itu ke tanah.

"O..., Rara Anteng, Rara Anteng....,,,,,"keluh raksasa itu. Batok dan tanah galian itu menutupi tubuhnya dan jadilah sebuah gunung bernama Gunung Batok.

Danau di sekitar gunung Batok hampir selesai, tetapi belum sempat di isi air. Sekarang danau itu di sebut Segara Wedi, yang berarti laut pasir karena danau itu penuh dengan pasir.

Akhirnya, pada suatu hari yang baik, Rara Anteng menikah dengan Joko Tengger. Begitulah asal mula daerah itu di sebut Tengger.

Rabu, 11 Mei 2016

Dongeng Asal-Usul Madura

Tersebutlah sebuah kerajaan di atas Pegunungan Tengger bernama Medangkamulan. Pada zaman itu, Kerajaan Medangkamulan diperintah oleh Prabu Gilingwesi yang sangat dihormati dan ditaati rakyatnya. Raja dibantu seorang perdana menteri yang cerdik bernama Patih Pranggulang. 


Meskipun Kerajaan Medangkamulan adil dan makmur, ada satu hal yang membuat Prabu Gilingwesi agak bersusah hati. Putrinya yang cantik jelita bernama Raden Ayu Tunjungsekar tidak mau bersuami. Telah banyak lamaran dari para putra mahkota negara-negara tetangga, namun semua ditolak sang Putri dengan alasan belum waktunya untuk berkeluarga. 

Pada suatu malam, Tunjungsekar tidur amat pulas. Dalam tidurnya, ia bermimpi sedang berjalan-jalan di tengah kebun yang sangat indah. Ketika ia sedang menikmati keindahan itu, tiba-tiba bulan purnama muncul di langit yang bersih tanpa awan. Ia sangat terpesona melihat sinar bulan yang sangat lembut itu. 

Bulan itu pun turun. Makin lama makin rendah. Tunjungsekar heran melihat peristiwa itu. Setelah dekat, bulan itu masuk ke dalam tubuh Tunjungsekar. Pada saat itu, Tunjungsekar terbangun. Ia sangat terkejut. Kemudian ia membangunkan inang pengasuhnya dan menanyakan arti mimpi aneh itu. 

"Mimpi itu hanya kembang angan-angan saat tidur," jawab inang pengasuh. "Sebaiknya Tuan Putri Tidur kembali." 

Beberapa bulan sesudah mimpi itu, Tunjungsekar hamil. Untunglah berita itu hanya diketahui beberapa orang di kalangan istana, belum tersebar ke masyarakat.

Prabu Gilingwesi merasa sangat terpukul mendengar putrinya hamil tanpa suami. Baginda juga sangat heran  mengapa masih ada orang bisa masuk ke kamar putrinya, padahal penjagaan sangat ketat.

Tunjungsekar dipanggil menghadap baginda. Ia menjelaskan bahwa sebelum hamil, terlebih dahulu ia bermimpi ada bulan purnama masuk ke dalam tubuhnya. Akan tetapi, Prabu Gilingwesi tidak percaya pada pengakuan putrinya. Dengan wajah merah, Baginda pun memanggil Patih Pranggulang.

"Patih," kata Raja dengan nada sangat marah, "bawahlah Tunjungsekar ke hutan. Kemudian, bunuhlah ia sebagai hukuman atas dosanya mencemarkan kehormatan negara!"

Patih Pranggulang pun berangkat bersama Tunjungsekar menuju ke hutan. Setelah sehari semalam berjalan, sampailah mereka di sebuah hutan lebat dekat laut. Putri Tunjungsekar berhenti dan duduk di atas sebuah batu.

"Ki Patih," ujar Tunjungsekar,"Silakan hukuman mati untukku dilaksanakan. Tetapi ingat, kalau aku tidak bersalah, engkau tidak akan bisa membunuhku."

Patih Pranggulang pun menghunus pedangnya. Dengan cepat ia mengayunkan pedang itu ke tubuh Tunjungsekar. Akan tetapi, sebelum menyentuh tubuh Tunjungsekar, pedang itu jatuh ke tanah. Patih Pranggulang pun memungut pedang itu kembali. Sewaktu diayunkan ke leher sang putri, pedang itu jatuh lagi. Tiga kali Patih Pranggulang melakukan hal seperti itu, tetapi gagal semua.

Sang Putri ternyata tidak bisa dijatuhi hukuman. Patih Pranggulang menyimpulkan dalam hati bahwa 
Tunjungsekar tidak bersalah. Ia pun menyembah di hadapan Tunjungsekar. Katanya," Tuan Putri sebaiknya segera pergi dari tempat ini. Saya akan membuatkan rakit untuk Tuan Putri naiki menyeberang laut. Saya sendiri tidak akan kembali ke keraton. Saya akan bertapa sambil mendoakan Tuan Putri agar selalu selamat."

Setelah rakit itu jadi, Tunjungsekar naik ke atasnya. Perlahan-lahan rakit itu bergerak meninggalkan pantai. Makin lama, makin jauh ke tengah laut. Patih Pranggulang dengan mata hampir tak berkedip memperhatikan rakit yang dinaiki sang putri.Lama sekali ia berdiri di tepi pantai. Setelah malam tiba, Patih Pranggulang masuk ke dalam hutan. Sejak itu, ia mengganti namanya menjadi Ki Poleng.

Rakit yang dinaiki Tunjungsekar dibawa arus ke utara. Beberapa hari lamanya ia terkatung-katung di tengah laut. Ia pasrah pada kehendak Tuhan, kemana saja rakit bergerak dipermainkan ombak, ia tetap tenang.

Pada suatu malam, bulan sedang purnama. Cahaya bulan tampak menerangi laut yang hitam kebiru-biruan. Ketika bulan purnama sedang rembang, tiba-tiba perut Tunjungsekar terasa sakit. Beberapa saat kemudian, ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang elok parasnya. Lalu, bayi itu didekapnya dengan penuh kasih sayang. Karena anak itu lahir di tengah laut, Tunjungsekar memberinya nama Raden Sagara. Menurut istilah Madura, Sagara berarti laut.

Beberapa hari kemudian, tampaklah sebuah pulau. Rakit yang dinaiki Tunjungsekar bergerak semakin dekat ke pulau itu. Tunjungsekar sangat gembira sebab ia berpikir akan tinggal di pulau itu bersama Raden Sagara.

Rakit itu pun menepi. Tunjungsekar segera turun ke darat sambil menggendong putranya. Ketika tiba di darat, sebuah keajaiban terjadi. Raden Sagara meloncat ke tanah sambil berlari ke sana kemari. Tubuhnya semakin besar, seperti anak berumur dua tahun.

Raden Sagara dan ibunya terus berjalan. Pulau itu sepi. Mereka tidak berjumpa dengan manusia, hanya burung-burung beraneka jenis serta margasatwa lainnya.

Raden Sagara dan ibunya pun tiba di sebuah tanah lapang yang luas. Di sudut tanah lapang itu, Raden Sagara melihat sebatang pohon. Ia mendekati pohon itu. Di dahan paling rendah ada sarang lebah yang cukup besar. Ketika Raden Sagara mendekat, lebah-lebah itu beterbangan menjauhi sarangnya seakan-akan memberi kesempatan kepada Raden Sagara untuk menikmati madu. Tidak ayal lagi, Raden Sagara pun mengambil madu dan menikmatinya bersama ibunya.

Karena mereka menemukan madu di tanah lapang yang luas, tempat itu kemudian diberi nama Madura yang berasal dari kata maddu e ra-ra. Artnya, madu di tanah daratan.

Kemudian Tunjungsekar bersama putranya tinggal di pulau itu. Setelah dewasa, Raden Sagara naik tahta sebagai raja yang memerintah Pulau Madura.

Selasa, 10 Mei 2016

Dongeng Asal-Usul Danau Toba

Alkisah pada jaman dahulu kala hiduplan seorang pemuda bernama Toba. Ia adalah seorang yatim piatu. Sehari-hari ia bekerja di ladang. Sesekali dia mencari ikan di sungai yang berada tak jauh dari gubugnya. Ikan hasil tangkapannya biasanya dijadikan sebagai lauk dan sisanya dijual ke pasar.
Pada suatu hari Toba memancing sepulang dari Ladang. Ia sangat berharap mendapatkan ikan yang besar yang bisa segera dimasaknya untuk dijadikan lauk. Terpenuhilah harapannya itu. Tak berapa lama ia melemparkan pancingnya ke sungai, mata kailnya telah disambar ikan. Betapa gembiranya ia ketika menarik tali pancingnya dan mendapati seekor ikan besar tersangkut di mata pancingnya.
Sejenak toba memperhatikan ikan besar yang berhasil dipancingnya itu.” Ikan yang aneh.” Gumannya. Seumur hidupnya belum pernah dilihatnya ikan seperti itu. Warna ikan itu kekuningan dan sisik-sisiknya kuning keemasan. Terlihat berkilauan sisik-sisik itu ketika terkena sinar matahari. Ketika Toba melepaskan mata kailnya dari mulut ikan tangkapannya, mendadak terjadi sebuah keajaiban. Ikan aneh bersisik kuning keemasan itu menjelma menjadi seorang perempuan yang cantik jelita wajahnya.
Toba terheran-heran mendapati keajaiban yang berlangsung di depan matanya itu. Ia hanya berdiri dengan bola mata membulat dan mulut melongo.
“Tuan.” Kata perempuan jelmaan ikan indah itu.”Aku adalah kutukan Dewa karena telah melanggar larangan besarnya. Telah ditakdirkan kepadaku, bahwa aku akan berubah bentuk menyerupai makhluk apa saja yang memegang atau menyentuhku. Karena tuan telah memegangku, maka akupun berubah menjadi manusia seperti Tuan ini.”
Toba memperkenalkan namanya. Begitu pula dengan perempuan berwajah jelita itu.” Namaku, putri, tuan.”
Toba lantas menjelaskan pula keinginannya untuk memperistri Putri karena dia terpesona kecantuikan si perempuan jelmaan ikan itu.” Bersediakah engkau menikah dengan ku?” tanyanya setelah pembicaraan beberapa saat.
“Baiklak, aku bersedia, tuan, Selama tuan bersedia pula memenuhi satu syarat yang kuajukan.” Jawab Putri
“Syarat apa yang engkau kehendaki? Sebutkan. Niscaya aku akan memenuhinya.”
“Permintaanku hanya satu, hendaklah tuan menutup rapat-rapat rahasiaku. Jangan sekali-kali tuan menyebutkan jika aku berasal dari ikan. Jika tuan menyatakan kesedian tuan untuk menjaga rahasia ini, aku bersedia menjadi istri Tuan.”
“Baiklah.” Kata Toba.” Aku akan menutup rapat-rapat rahasimu ini. Rahasia ini hanya kita ketahui berdua saja.”
Toba dan Putri pun menikah. Keduanya hidup rukun dan berbahagia meski dalam kesederhanaan. Kebahagian mereka serasa kian lengkap dengan kelahiran anak mereka. Seorang anak laki-laki. Samosir namanya.
Samosir tumbuh mejadi anak yang sehat. Tubuhnya kuat. Sayang dia agak nakal serta pemalas. Keinginannya hanya tidur-tiduran saja. Ia seperti tidak peduli atau ingin membantu kerepotan ayahnya yang sibuk bekerja di ladang. Bahkan, untuk sekedar mengantar makanan dan minuman untuk ayahnyapun, Samosir kerap menolak jika diminta. Seandainya mau, dia akan melakukannya dengan malas-malasan, dengan wajah bersungut-sungut. Bertambah-tambah malas kelakuannya akibat ibunya terus memanjakannya. Apapun yang dimintanya akan diusahakan ibunya untuk dipenuhi.
Samosir sangat kuat nafsu makannya. Jatah makanan sehari untuk sekeluarganya bisa dihabiskannya dalam sekali makan. Toba merasa harus bekerja lebih keras lagi untuk dapat memenuhi keinginan makan anak laki-lakinya yangb luar biasa itu.
Pada suatu hari Samosir diminta ibunya untuk mengantarkan makanan dan minuman untuk ayahnya. Samosir yang tengah bermalas-malasan semula enggan untuk menjalankan perintah ibunya itu. Namun, setelah ibunya terus memaksa akhirnya dia bersedia melakukannya meski dengan wajah yang bersungut-sungut.
Samosir membawa makanan dan minuman itu menuju ke ladang. Ditengah perjalanan, Samosir measa lapar. Dihentikannya langkah menuju kebun. Ia lantas memakan makanan yang seharusnya diperuntukan bagi ayahnya itu. Tidak dihabiskannya semua makanan itu melainkan disisakan sedikit. Dengan makanan dan minuman yang tersisa sedikit itu Samosir melanjutkan perjalanan menuju ladang. Setibanya di ladang, samosir memberikan makanan dan minuman itu untuk ayahnya.
Toba telah sangat merasa lapar karena bekerja keras sejak pagi langsung membuka bekal untuk memakannya. Terperanjat dia saat melihat makanan untuk nya tinggal sedikit.” Mengapa jatah makanan dan minumanku tinggal sedikit?” tanyanya dengat raut wajah kesal.
Dengan wajah polos seolah tidak melakukan kesalahan, Samosir menjawab.” Tadi di jalan aku sangat lapar, Ayah. Oleh karenanya, jatah makanan dan minuman ayah itu telah kumakan sebagian. Tapi, tidak semua kuhabiskan, bukan? Masih tersedia sedikit makanan dan minuman untuk Ayah.”
“anak tidak tahu diuntung.” Maki toba kepada anaknya. Kemarahan seketika meninggi. Serasa tidak bisa lagi dia menahan dan bersabar, umpatannyapun seketika itu meluncur.” Dasar anak keturunan ikan engkau ini.”
Samosir sangat terkejut mendengat umpatan ayahnya. Dia langsung berlari ke rumah. Pada saat bertemu ibunya, samosir langsung menceritakan umpatan dan cacian ayahnya yang menyebutkan dirinya adalah keturunan ikan.
Mendengar pengaduan anaknya, ibu Samosir menjadi sangat bersedih. Tidak disangka jika suaminya melanggar sumpah untuk tidak menyebutkannya berasal dari ikan.

Penduduk kemudian menamakan danau itu Danau Toba. Adapun pulau kecil yang berada ditengah-tengah danau toba itu disebut Pulau Samosir untuk mengingatkan kepada pada anak lelaki Toba.
Samosir dan ibunya saling berpoegangan. Dalam hitungan sekejap, keduanya menghilang. Keajaiban pun terjadi. Dibekas pijakan kaki Samosir dan ibunya menyembur air yang sangat deras. Dari dalam tanah, air laksana disemburkan keluar seolah tiada henti. 
Semakin lama tidak semkin berkuran semburan air itu melainkan semakin besar adanya. Dalam waktu cepat permukaan tanah itu pun tergenang. Permukaan air terus meninggi dan tek berapa lama kemudian lembah tempat tinggal Toba telah tergenang air. Terbentuklah kemudian sebuah danau yang sangat luas di tempat itu.
 

DONGENG Template by Ipietoon Cute Blog Design