Di Suatu hari yang panas seekor rajawali sangat haus dan ingin minum. Sungai amat jauh dan sangat melelahkan jika terbang ke sana untuk minum. Ia tidak melihat kolam air di mana pun. Ia terbang berputar-putar. Akhirnya ia melihat sebuah buyung di luar rumah. Rajawali terbang turun ke buyung itu. Di sana ada sedikit air di dasar buyung. Rajawali memasukkan kepalanya ke dalam buyung tetapi ia tidak menggapai air itu. Ia memanjat ke atas buyung. Ia memasukkan lagi kepalanya ke dalam buyung tetapi paruhnya tidak bisa mencapai air itu.
Kemudian ia mencari akal.
Rajawali itu terbang tinggi dan kemudian turun menuju ke buyung untuk memecahkannya dengan paruhnya tetapi buyung itu amat kuat. Ia tidak dapat memecahkannya. Rajawali itu keluar terbang kearah buyung kemudian ia menabrakkan sayapnya. Ia mencoba memecahkannya, agar airnya akan keluar membasahi lantai. Tetapi buyung itu amat kuat. Rajawali itu amat letih bila harus terbang lebih jauh lagi. Ia berpikir ia akan mati kehausan.
Rajawali itu duduk termenung di sarangnya. Ia berpikir terus menerus Ia tidak mau mati karena kehausan. Ia melihat banyak batu-batu kecil di tanah. Ia mendapatkan ide. Ia mengambil batu itu dan memasukkannya ke dalam buyung. Ia memasukkan dan memasukkan terus. Air itu naik lebih tinggi setiap kali batu jatuh ke dalam buyung. Buyung itu hampir penuh dengan batu. Air telah naik sampai ke permukaan. Rajawali yang pintar itu memasukkan paruhnya dan ia mendapatkan air. Pepatah mengatakan bahwa “ Jika ada kemauan pasti ada jalan. “ Rajawali itu telah membuktikannya.
Sumber : http://www.ceritaanak.org/index.php/kumpulan-cerita-dongeng-anak/146-rajawali-yang-cerdik
Jumat, 03 Juni 2016
Jack dan Pohon Kacang
Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang anak laki-laki yang bernama Jack. Ia tinggal di rumah dengan ibunya. Hidup mereka sangat memprihatinkan, dan harta yang mereka miliki hanyalah seekor sapi tua yang produksi susunya mulai berkurang. Hingga suatu hari, ibu menyuruh Jack pergi ke pasar untuk menjual sapi mereka satu-satunya itu. Uang hasil penjualan sapi tersebut nantinya akan digunakan untuk membeli biji gandum dan kemudian akan menanamnya di ladang belakang rumah mereka.
Keesokan harinya, Jack pergi ke pasar untuk menjual sapinya. Di tengah perjalanan menuju ke pasar, Jack bertemu dengan seorang kakek. Kakek tersebut lalu menyapa Jack. “Hai nak, mau dibawa kemana sapi itu?” Lalu Jack menjawab,”Aku mau menjual sapi ini ke pasar Kek”. Setelah mendengar jawaban Jack, kakek itu lalu menawarkan untuk menukar sapinya dengan sebutir kacang. “Maukah engkau menukar sapimu dengan kacang ajaib ini?", kata kakek itu. "Apa, menukar sebutir kacang dengan sapiku?" kata Jack terkejut. "Jangan menghina, ya! Ini adalah kacang ajaib. Jika kau menanamnya dan membiarkannya semalam, maka pagi harinya kacang ini akan tumbuh sampai ke langit, kata kakek itu menjelaskan. "Jika begitu baiklah," jawab Jack.
Sesampainya di rumah, Jack menceritakan semuanya kepada ibunya. Setelah mendengar cerita Jack, ibu sangat terkejut dan marah. "Bagaimana bisa kau tukar sapi itu dengan sebutir biji kacang ini? Bagaimana mungkin kita hidup hanya dengan sebutir biji kacang?" Saking marahnya, sang Ibu melempar biji kacang tersebut keluar jendela. Tapi apa yang terjadi keesokan harinya? Ternyata ada pohon raksasa yang tumbuh sampai mencapai langit. "Wah, ternyata benar apa yang dikatakan oleh kakek itu, gumam Jack". Lalu dengan hati-hati ia langsung memanjat pohon raksasa itu. "Aduh, mengapa tidak sampai juga ke ujung pohon ya?" kata Jack dalam hati.
Tidak berapa lama kemudian, Jack melihat ke bawah. Ia melihat rumah-rumah menjadi sangat kecil. Akhirnya Jack sampai ke awan. Di sana ia bisa melihat sebuah istana yang sangat besar sekali. "Aku haus dan lapar, mungkin di istana itu aku menemukan makanan," gumam Jack. Sesampainya di depan pintu istana, ia mengetuknya dengan keras. "Kriek..." pintu yang besar itu terbuka. Ketika ia menengadah, muncul seorang raksasa wanita yang besar. "Ada apa nak?", kata wanita itu. "Selamat pagi, saya haus dan lapar, bolehkah saya minta sedikit makanan?" Wah, kau anak yang sopan sekali. Masuklah! Makan di dalam saja, ya!" kata wanita itu ramah.
Ketika sedang makan, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang keras, Duk Duk! Ternyata suami wanita itu yang datang. Ia adalah Raksasa Pemakan Manusia. Dengan cepat wanita itu berkata pada Jack. "Nak, cepatlah sembunyi! Suamiku datang." "Huaaa…. Aku pulang. Cepat siapkan makan!" teriak raksasa itu. Jack menahan nafas di dalam tungku. Raksasa itu tiba-tiba mencium bau manusia. Lalu ia mengintip ke dalam tungku. Cepat-cepat istrinya berkata,"Itu bau manusia yang kita bakar kemarin. Sudahlah tenang saja. Ini makanannya sudah siap."
Setelah makan, raksasa mengeluarkan pundi-pundi yang berisi uang emas curiannya, setelah lama menghitung dia merasa sangat capek. Tak berapa lama kemudian raksasa itu akhirnya tertidur karena lelah. Melihat hal itu, Jack segera keluar dari persembunyiannya. Sebelum pulang, ia mengambil uang emas hasil curian si raksasa itu sambil berjalan mengendap-endap menuju pohon kacang.
Keesokan harinya, Jack pergi ke pasar untuk menjual sapinya. Di tengah perjalanan menuju ke pasar, Jack bertemu dengan seorang kakek. Kakek tersebut lalu menyapa Jack. “Hai nak, mau dibawa kemana sapi itu?” Lalu Jack menjawab,”Aku mau menjual sapi ini ke pasar Kek”. Setelah mendengar jawaban Jack, kakek itu lalu menawarkan untuk menukar sapinya dengan sebutir kacang. “Maukah engkau menukar sapimu dengan kacang ajaib ini?", kata kakek itu. "Apa, menukar sebutir kacang dengan sapiku?" kata Jack terkejut. "Jangan menghina, ya! Ini adalah kacang ajaib. Jika kau menanamnya dan membiarkannya semalam, maka pagi harinya kacang ini akan tumbuh sampai ke langit, kata kakek itu menjelaskan. "Jika begitu baiklah," jawab Jack.
Sesampainya di rumah, Jack menceritakan semuanya kepada ibunya. Setelah mendengar cerita Jack, ibu sangat terkejut dan marah. "Bagaimana bisa kau tukar sapi itu dengan sebutir biji kacang ini? Bagaimana mungkin kita hidup hanya dengan sebutir biji kacang?" Saking marahnya, sang Ibu melempar biji kacang tersebut keluar jendela. Tapi apa yang terjadi keesokan harinya? Ternyata ada pohon raksasa yang tumbuh sampai mencapai langit. "Wah, ternyata benar apa yang dikatakan oleh kakek itu, gumam Jack". Lalu dengan hati-hati ia langsung memanjat pohon raksasa itu. "Aduh, mengapa tidak sampai juga ke ujung pohon ya?" kata Jack dalam hati.
Tidak berapa lama kemudian, Jack melihat ke bawah. Ia melihat rumah-rumah menjadi sangat kecil. Akhirnya Jack sampai ke awan. Di sana ia bisa melihat sebuah istana yang sangat besar sekali. "Aku haus dan lapar, mungkin di istana itu aku menemukan makanan," gumam Jack. Sesampainya di depan pintu istana, ia mengetuknya dengan keras. "Kriek..." pintu yang besar itu terbuka. Ketika ia menengadah, muncul seorang raksasa wanita yang besar. "Ada apa nak?", kata wanita itu. "Selamat pagi, saya haus dan lapar, bolehkah saya minta sedikit makanan?" Wah, kau anak yang sopan sekali. Masuklah! Makan di dalam saja, ya!" kata wanita itu ramah.
Ketika sedang makan, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang keras, Duk Duk! Ternyata suami wanita itu yang datang. Ia adalah Raksasa Pemakan Manusia. Dengan cepat wanita itu berkata pada Jack. "Nak, cepatlah sembunyi! Suamiku datang." "Huaaa…. Aku pulang. Cepat siapkan makan!" teriak raksasa itu. Jack menahan nafas di dalam tungku. Raksasa itu tiba-tiba mencium bau manusia. Lalu ia mengintip ke dalam tungku. Cepat-cepat istrinya berkata,"Itu bau manusia yang kita bakar kemarin. Sudahlah tenang saja. Ini makanannya sudah siap."
Setelah makan, raksasa mengeluarkan pundi-pundi yang berisi uang emas curiannya, setelah lama menghitung dia merasa sangat capek. Tak berapa lama kemudian raksasa itu akhirnya tertidur karena lelah. Melihat hal itu, Jack segera keluar dari persembunyiannya. Sebelum pulang, ia mengambil uang emas hasil curian si raksasa itu sambil berjalan mengendap-endap menuju pohon kacang.
Jack terus menuruni pohon kacang dan akhirnya sampai di rumah. "Ibu… lihatlah emas ini. Mulai sekarang kita jadi orang kaya." "Tak mungkin kau mendapat uang sebanyak ini dengan mudah. Apa yang kamu lakukan?" Lalu Jack menceritakan semua kejadian pada ibunya. "Kau terlalu berani Jack! Bagaimana jika raksasa itu datang untuk mengambilnya kembali," kata ibunya dengan kuatir. Semenjak mendapatkan uang emas, tiap harinya Jack hanya bersantai-santai saja dengan uang curiannya.
Tidak berapa lama, uang hasil curiannya pun habis. Jack kembali memanjat pohon kacang, untuk menuju ke istana. "Eh kau datang lagi. Ada apa?" kata istri raksasa itu. "Selamat siang Bu. Karena saya belum makan dari pagi, perutku jadi lapar sekali." Ibu yang baik itu diam saja, tapi ia tetap memberi Jack makan siang. Tiba-tiba…. Duk Duk Duk! Terdengar suara langkah kaki raksasa. Seperti dulu, Jack kembali bersembunyi di tungku.
Setelah masuk ke rumahnya, raksasa itu makan dengan lahapnya. Setelah itu ia meletakkan ayam hasil curiannya ke atas meja sambil berkata, "Ayam, keluarkan telur emasmu." Lalu ayam itu berkokok, "kukuruyuuk….," ia mengeluarkan sebutir telur emas. Raksasa merasa puas, ia minum sake sampai akhirnya tertidur. "Telur emas? Wah hebat!" pikir Jack.
Setelah masuk ke rumahnya, raksasa itu makan dengan lahapnya. Setelah itu ia meletakkan ayam hasil curiannya ke atas meja sambil berkata, "Ayam, keluarkan telur emasmu." Lalu ayam itu berkokok, "kukuruyuuk….," ia mengeluarkan sebutir telur emas. Raksasa merasa puas, ia minum sake sampai akhirnya tertidur. "Telur emas? Wah hebat!" pikir Jack.
Diam-diam ia menangkap ayam itu dan cepat-cepat lari pulang ke rumah. Dengan ayam petelur emasnya, Jack menjadi orang yang malas dan suka bersantai-santai saja. Karena tiap hari ayam itu mengeluarkan telur lebih dari seharusnya, ayam itu pun akhirnya mati.
Jack merasa bingung, karena persediaan duitnya kian menipis. Akhirnya Jack memutuskan untuk kembali lagi ke istana raksasa itu. Dan lagi-lagi ia bersembunyi di tungku, ketika raksasa laki-laki pulang sambil membawa harpa. Sambil minum sake, raksasa berkata," Hai harpa, mainkan sebuah melodi yang indah." Keajaiban pun terjadi, harpa itu memainkan sendiri sebuah melodi indah. Raksasa pun mulai tertidur dengan pulas setelah mendengarkan merdunya musik yang dimainkan harpa itu.
Seperti biasanya, Jack mulai beraksi pada saat raksasa tertidur. Jack lalu keluar dari persembunyiannya, dan langsung menuju meja tempat harpa diletakkan. Tapi saat Jack akan mengambil harpa, tiba-tiba saja ada sesuatu yang mengejutkan. Harpa itu berteriak dengan keras, “Tuanku, ada pencuri…!!!” Raksasa itu pun terbangun.
Seperti biasanya, Jack mulai beraksi pada saat raksasa tertidur. Jack lalu keluar dari persembunyiannya, dan langsung menuju meja tempat harpa diletakkan. Tapi saat Jack akan mengambil harpa, tiba-tiba saja ada sesuatu yang mengejutkan. Harpa itu berteriak dengan keras, “Tuanku, ada pencuri…!!!” Raksasa itu pun terbangun.
Ia segera mengejar Jack yang berlari sambil membawa harpa milik raksasa itu. Raksasa terus mengejar, menuruni pohon kacang. Ketika hampir sampai di bawah, Jack berteriak dengan suara keras. "Ibuu…. Ambilkan kapak dari gudang! cepat! cepat! Betapa terkejutnya sang Ibu melihat sosok raksasa yang datang mengejar Jack, ia gemetar karena amat takut. Begitu turun dari pohon, Jack segera menebang pohon kacang itu dengan kapaknya.
Dengan suara yang keras, pohon kacang rubuh. Raksasa itu pun jatuh ke tanah, dan mati. Ibu sangat lega melihat Jack selamat.
Dengan suara yang keras, pohon kacang rubuh. Raksasa itu pun jatuh ke tanah, dan mati. Ibu sangat lega melihat Jack selamat.
Sambil mengangis ia berkata : "Jack, jangan lagi kau melakukan hal yang menyeramkan seperti ini. Betapapun miskinnya kita bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Dengan bersyukur kepada Tuhan, pasti kita berdua akan hidup dengan baik." "Maafkan saya Ibu, mulai sekarang saya akan bekerja dengan sungguh-sungguh, kata Jack pada Ibunya." Sejak saat itu, Jack bekerja dengan rajin setiap harinya. Dengan ditemani harpa yang memainkan melodi-melodi indah yang menambah semangat kerja Jack.
Dongeng Asal Mula Rumah Siput
Dahulu kala, siput tidak membawa rumahnya kemana-mana… Pertama kali siput tinggal di sarang burung yang sudah ditinggalkan induk burung di atas pohon .
Malam terasa hangat dan siang terasa sejuk karena daun-daun pohon merintangi sinar matahari yang jatuh tepat ke sarang tempat siput tinggal. Tetapi ketika musim Hujan datang, daun-daun itu tidak bisa lagi menghalangi air hujan yang jatuh,.. siput menjadi basah dan kedinginan terkena air hujan.
Kemudian siput pindah ke dalam lubang yang ada di batang pohon, Jika hari panas, siput terlindung dengan baik, bahkan jika hujan turun, siput tidak akan basah dan kedinginan. Sepertinya aku menemukan rumah yang cocok untukku, gumam siput dalam hati.
Tetapi di suatu hari yang cerah, datanglah burung pelatuk ,, tok..tok…tok…burung pelatuk terus mematuk batang pohon tempat rumah siput, siput menjadi terganggu dan tidak bisa tidur,
Dengan hati jengkel, siput turun dari lubang batang pohon dan mencari tempat tinggal selanjutnya.
Siput menemukan sebuah lubang di tanah, kelihatannya hangat jika malam datang, pikir siput. Siput membersihkan lubang tersebut dan memutuskan untuk tinggal di dalamnya, tetapi ketika malam datang, tikus-tikus datang menggali dari segala arah merusak rumah siput. Apa mau dikata, siput pergi meninggalkan lubang itu untuk mencari rumah baru….
Siput berjalan terus sampai di tepi pantai penuh dengan batu karang. Sela-sela batu karang dapat menjadi rumahku !!! siput bersorak senang, aku bisa berlindung dari panas matahari dan hujan, tidak aka nada burung pelatuk yang akan mematuk batu karang ini, dan tikus-tikus tidak akan mampu menggali lubang menembus ke batu ini.
Siput pun dapat beristirahat dengan tenang, tetapi ketika air laut pasang dan naik sampai ke atas batu karang, siput ikut tersapu bersama dengan ombak. Sekali lagi siput harus pergi mencari rumah baru. Ketika berjalan meninggalkan pantai, siput menemukan sebuah cangkang kosong, bentuknya cantik dan sangat ringan….
Karena lelah dan kedinginan, Siput masuk ke dalam cangkang itu , merasa hangat dan nyaman lalu tidur bergelung di dalamnya.
Ketika pagi datang, Siput menyadari telah menemukan rumah yang terbaik baginya. Cangkang ini sangat cocok untuknya. Aku tidak perlu lagi cepat-cepat pulang jika hujan turun, aku tidak akan kepanasan lagi, tidak ada yang akan menggangguku, …. aku akan membawa rumah ini bersamaku ke manapun aku pergi.
Malam terasa hangat dan siang terasa sejuk karena daun-daun pohon merintangi sinar matahari yang jatuh tepat ke sarang tempat siput tinggal. Tetapi ketika musim Hujan datang, daun-daun itu tidak bisa lagi menghalangi air hujan yang jatuh,.. siput menjadi basah dan kedinginan terkena air hujan.
Kemudian siput pindah ke dalam lubang yang ada di batang pohon, Jika hari panas, siput terlindung dengan baik, bahkan jika hujan turun, siput tidak akan basah dan kedinginan. Sepertinya aku menemukan rumah yang cocok untukku, gumam siput dalam hati.
Tetapi di suatu hari yang cerah, datanglah burung pelatuk ,, tok..tok…tok…burung pelatuk terus mematuk batang pohon tempat rumah siput, siput menjadi terganggu dan tidak bisa tidur,
Dengan hati jengkel, siput turun dari lubang batang pohon dan mencari tempat tinggal selanjutnya.
Siput menemukan sebuah lubang di tanah, kelihatannya hangat jika malam datang, pikir siput. Siput membersihkan lubang tersebut dan memutuskan untuk tinggal di dalamnya, tetapi ketika malam datang, tikus-tikus datang menggali dari segala arah merusak rumah siput. Apa mau dikata, siput pergi meninggalkan lubang itu untuk mencari rumah baru….
Siput berjalan terus sampai di tepi pantai penuh dengan batu karang. Sela-sela batu karang dapat menjadi rumahku !!! siput bersorak senang, aku bisa berlindung dari panas matahari dan hujan, tidak aka nada burung pelatuk yang akan mematuk batu karang ini, dan tikus-tikus tidak akan mampu menggali lubang menembus ke batu ini.
Siput pun dapat beristirahat dengan tenang, tetapi ketika air laut pasang dan naik sampai ke atas batu karang, siput ikut tersapu bersama dengan ombak. Sekali lagi siput harus pergi mencari rumah baru. Ketika berjalan meninggalkan pantai, siput menemukan sebuah cangkang kosong, bentuknya cantik dan sangat ringan….
Karena lelah dan kedinginan, Siput masuk ke dalam cangkang itu , merasa hangat dan nyaman lalu tidur bergelung di dalamnya.
Ketika pagi datang, Siput menyadari telah menemukan rumah yang terbaik baginya. Cangkang ini sangat cocok untuknya. Aku tidak perlu lagi cepat-cepat pulang jika hujan turun, aku tidak akan kepanasan lagi, tidak ada yang akan menggangguku, …. aku akan membawa rumah ini bersamaku ke manapun aku pergi.
Kamis, 02 Juni 2016
Ratu Lebah (Brother's Grimm)
Dua orang putra raja yang melakukan petualangan bersama, terjerumus ke dalam kehidupan liar dan berfoya-foya hingga melupakan tanggung-jawab dan kerajaan ayah mereka lagi. Putra ketiga yang merupakan putra yang termuda dan dipanggil dengan julukan si Bodoh, berusaha untuk menyusul kedua kakaknya, dan saat Ia menemukan mereka, kedua kakaknya mengolok si Bodoh dan berkata bahwa si Bodoh takkan mampu ikut bersama mereka melakukan petualangan menaklukkan dunia, karena mereka saja yang lebih pandai, tidak berhasil sampai saat ini.
Tetapi akhirnya mereka setuju untuk bertualang bersama dan suatu ketika mereka menemukan gundukan sarang semut. Timbullah keinginan iseng dari kedua kakaknya untuk secara membongkar sarang tersebut dan melihat semut-semut kecil berlarian ketakutan membawa telur-telur mereka, tetap si Bodoh berkata,
"Biarkanlah makhluk kecil itu sendiri, saya tidak akan membiarkan mereka terganggu."
Dan kemudian mereka bertiga melanjutkan perjalanan hingga tiba di sebuah danau, di mana pada danau itu terdapat sejumlah bebek yang berenang-renang. Kedua putra raja yang tertua ingin menangkap bebek tersebut dan memanggangnya, tetapi si Bodoh tidak memperbolehkan mereka, dan berkata, "Biarkanlah makhluk itu sendiri, saya tidak akan membiarkan mereka terbunuh."
Saat mereka menjumpai sebuah sarang lebah di sebuah pohon, di mana sarang tersebut penuh dengan madu hingga mengalir keluar ke batang pohon, Kedua putra raja yang tertua ingin membuat api di bawah pohon agar lebah-lebah yang berada di sarangnya terusir oleh asap api sehingga mereka dapat mengambil madunya. Tetapi si Bodoh melarang mereka dan berkata,
"Biarkanlah makhluk kecil itu sendiri, saya tidak akan membiarkan mereka tercekik oleh asap."
Akhirnya ketiga kakak-beradik menemukan suatu istana dimana pada kandang kuda istana tersebut terdapat banyak kuda yang terbuat dari batu, dan saat ketiga kakak-beradik masuk ke dalam istana dan menjelajahi semua ruangan, mereka menemukan sebuah pintu yang terkunci dengan tiga kunci, dan di pintu kamar tersebut, didapati sebuah lubang kecil dimana mereka bisa melihat ke dalam ruangan melalui lubang kecil itu.
Mereka melihat seorang yang sudah tua dan berambut kelabu duduk di meja. Mereka lalu berteriak memanggilnya sekali, dua kali, dan pada ketiga kalinya, orang tua tersebut berdiri, membuka pintu, lalu keluar dari kamar. Tanpa berkata apa-apa, dia membimbing mereka ke sebuah meja yang penuh dengan barang-barang yang bagus dan makanan-makanan yang lezat.
Dan setelah ketiga putra raja makan dan minum, dia menunjukkan masing-masing kamar tidur untuk ketiga putra raja. Keesokan paginya, orang tua itu mengunjungi putra raja yang tertua, memanggilnya dan membawanya ke sebuah meja dari batu, di mana di atas meja tersebut terdapat tiga tulisan yang menunjukkan hal untuk menghilangkan kutukan dari istana itu.
Hal yang pertama adalah, di dalam hutan di bawah lumut, terletak mutiara milik putri raja yang berjumlah seribu, dan mutiara tersebut harus dicari dan dikumpulkan, dan apabila orang yang mendapatkan tugas itu tidak menyelesaikannya hingga matahari terbenam, atau apabila masih ada sebutir mutiarapun yang hilang, dia akan berubah menjadi batu.
Sang putra raja yang tertua keluar untuk mencari mutiara-mutiara tersebut, tetapi sepanjang hari hingga matahari terbenam, dia hanya menemukan seratus mutiara, dan seperti yang tertulis pada meja batu, dia berubah menjadi batu. Putra raja yang kedua, menerima tugas tersebut keesokan harinya, tetapi dia juga tidak berhasil menyelesaikannya dan hanya mendapatkan dua ratus mutiara. Dia pun dalam sekejap berubah menjadi batu.
Saat si Bodoh mendapatkan gilirannya, dia mulai mencari di seluruh hutan dan di bawah lumut, tetapi pencarian mutiara ini betul-betul bukan merupakan tugas yang gampang, hingga akhirnya si Bodoh mulai berputus asa, duduk di sebuah batu dan mulai menangis. Saat dia duduk, datanglah raja semut beserta lima ribu semut, yang pernah diselamatkan oleh si Bodoh. Tidak berapa lama kemudian makhluk-makhluk kecil itu berhasil mengumpulkan semua mutiara dan menaruhnya dalam satu tumpukan.
Hal kedua yang tertulis di meja batu adalah mendapatkan kunci kamar tidur sang Putri Raja dari dalam danau.
Dan saat si Bodoh datang ke danau, bebek yang hidupnya pernah diselamatkan olehnya, datang berenang, menyelam, dan membawakan kunci yang ditemukan di dasar danau. Hal ketiga yang harus dilakukan dan merupakan hal yang tersulit, adalah memilih putri yang termuda dari tiga orang putri yang tertidur.
Semua putri memiliki wajah yang mirip antara satu dengan yang lainnya, dan yang bisa menjadi perbedaan diantara mereka adalah, sebelum mereka tertidur, mereka meminum tiga jenis minuman yang manis. Putri yang tertua meminum air gula, yang kedua meminum syrup, dan yang termuda meminum madu.
Saat itulah Ratu Lebah yang pernah diselamatkan oleh si Bodoh, datang membantu dan hinggap pada putri yang telah meminum madu, sehingga si Bodoh bisa menebak dengan benar. Saat itulah semua kutukan sihir pada istana menjadi hilang, semua orang dan makhluk yang terkena kutukan, termasuk kedua putra raja, menjadi terbangun dan berubah wujud dari batu, kembali menjadi seperti sedia kala.
Si Bodoh akhirnya menikahi putri yang termuda, dan diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya yang telah meninggal.
Hans Christian Andersen
Hans Christian Andersen adalah penulis dan penyair dari Denmark . Popularitas Andersen tidak terbatas pada anak-anak, cerita mengungkapkan tema yang melampaui usia dan kebangsaan.Dongeng Andersen, yang telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 125 bahasa, telah menjadi budaya tertanam dalam kesadaran kolektif Barat, mudah diakses anak-anak, tetapi menyajikan pelajaran kebajikan dan ketahanan dalam menghadapi kesulitan untuk pembaca dewasa juga. Mereka telah menginspirasi film, drama, balet, dan film animasi.
MASA KECIL HANS
Andersen lahir di kota Odense, Denmark, pada Selasa, April 2, 1805. Dia adalah anak tunggal. Ayah Andersen (panggilan Hans Christian Andersen) adalah tukang sepatu rendahan, ia sering diejek teman-temannya sebagai anak tukang sepatu dan anak miskin. Oleh karena itu ia sering tidak punya teman karena teman-temannya menjauhinya.
Andersen sering menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Walaupun ayahnya hanya tukang sepatu, tetapi ayah Andersen, yang telah menerima pendidikan dasar, memperkenalkan Andersen dengan sastra. Dari situ ayahnya sering membacakan puisi kepada Andersen yang masih kecil. Dengan jari jemarinya yang terampil, ayah Andersen mengajarinya membuat berbagai mainan dan boneka.
Andersen sering mengkhayalkan sesuatu ketika ia selesai membaca buku. Ia membenamkan diri dalam dunia khayalannya. Ia sering membuat boneka, bersandiwara dan bercerita. Ia benar-benar asyik dengan dunianya. Begitulah anak kesepian ini menghabiskan waktunya.
KARIR SEPANJANG HIDUPNYA
Sebuah dongeng yang sangat awal oleh Andersen yang berjudul The Tallow Candle ditemukan dalam arsip Denmark pada Oktober 2012. Kisah, yang ditulis tahun 1820-an itu, adalah tentang lilin yang tidak merasa dihargai. Ini ditulis saat ia masih di sekolah dan didedikasikan untuk seorang dermawan, dalam kepemilikan yang keluarga itu tetap sampai muncul di antara kertas keluarga lainnya dalam koper di arsip lokal.
Pada tahun 1829, Andersen menikmati kesuksesan besar dengan sebuah cerita pendek berjudul Perjalanan di Kaki dari Canal Holmen untuk Point Timur Amager. Dalam buku tersebut, protagonis memenuhi karakter mulai dari Saint Peter dengan kucing berbicara.
Dia mengikuti keberhasilan ini dengan sepotong teater, Cinta di St Nicholas Church Tower dan volume pendek puisi. Meskipun ia membuat sedikit kemajuan menulis dan menerbitkan segera sesudahnya, pada tahun 1833 ia menerima hibah perjalanan kecil dari Raja, yang memungkinkan dia untuk berangkat pada yang pertama dari banyak perjalanan melalui Eropa.
Pada Jura, dekat Le Locle, Swiss, ia menulis cerita, Agnete dan Merman. Ia menghabiskan malam di desa pantai Italia Sestri Levante tahun yang sama, inspirasi nama, The Bay of Fables. Pada bulan Oktober 1834, ia tiba di Roma. Perjalanan Andersen di Italia akan tercermin dalam novel pertamanya, sebuah otobiografi berjudul The Improvisatore yang diterbitkan pada tahun 1835, menerima pengakuan instan.
KARYA-KARYA ANDERSON
Hans Christian Andersen Telah Menjadi ahli dongeng yang dihormati di seluruh dunia. Ia berhasil mewujudkan mimpinya. Menjadi aktor besar dan juga legenda hingga sekarang.
Hans Christian Andersen tutup usia pada tanggal 4 Agustus 1975. Ia meninggal dengan tenang dan meninggalkan karya besar yang hidup di hati anak-anak hingga sekarang.
Serigala Berbulu Domba
Seekor serigala tua berjalan terseok-seok di padang rumput. Dari kejauhan, ia tak henti menoleh ke kawanan domba yang bergerak seperti awan ditiup angin. Serigala tua menghadapi kesulitan terbesar sekarang. Ia tidak bisa lagi memburu domba-domba itu. “Padahal, kalau tidak memangsa domba aku bisa mati kelaparan.”
![]() |
| Serigala Berbulu Domba |
Di kayu rebah di gundukan bukit, ia berhenti lalu duduk memandangi padang rumput. “Anak-anak domba yang gemuk. Dagingnya pasti manis dan empuk, mmmh.” “Matilah aku, matilah aku...” Katanya lagi. Ia ingin berhenti melihat ke sana. Pemandangan itu membuatnya makin lapar. Serigala tua mencari siasat. Setiap kali menemukan siasat, ia segera putus asa. Ada bocah gembala di antara kawanan domba, yang membuat serigala tua tak bisa menangkap seekor domba pun.
Serigala tua ingat saat pertama kali hendak menangkap domba milik gembala itu. “HEEEAHHH...!!! Pergi kamu, Serigala tua! Tidak akan ada lagi domba untukmu!” “Uphs...” Serigala tua terkejut dan bermaksud berlari menyelamatkan diri. Tapi, tongkat panjang sang gembala menggebukinya sampai terguling-guling. Meski terluka parah, serigala tua berhasil menyelamatkan diri. Bocah itu benar-benar waspada. Setiap serigala tua mendekat ke arah domba, bocah gembala itu sudah mengejarnya lebih dahulu dengan mengayunkan tongkatnya. Setiap hari bocah itu berhasil memukuli serigala tua. “Aaah, pukulan tongkat itu sungguh menyakitkan.” Serigala tua itu mendengus kesal.
Meski selalu berhasil melarikan diri, serigala tua selalu terluka parah. Bocah gembala itu tidak sendirian. “Anjing-anjing gembala juga selalu berhasil menggigitku,” Serigala tua berpikir sambil mondar-mandir. Ia hampir putus asa. “Aku harus mencari mangsa lain,” Serigala tua berhenti mondar-mandir, “Aku harus berjalan-jalan, mungkin akan dapat seekor tikus atau tupai tanah.
Ia berjalan ke arah tepian padang yang agak tandus. “Semoga ada sisa buruan burung nazar.” Kemudian serigala tua mengendus-enduskan hidungnya ke udara. Biasanya angin meniupkan bau-bauan makanan. Tiba-tiba, ia mencium sesuatu. Sepertinya bukan bau daging segar, tapi ia kenal bau itu. “Slrrrrp, Lumayan. Bau daging domba yang dikeringkan. Barangkali saja dendeng?” Serigala tua itu sering melihat petani dan gembala mengunyah dendeng domba. Dari cara mereka memakan dendeng itu seiris demi seiris, air liur serigala tua menetes. Slrrrrp...
“Yihaaa! Baunya sudah dekat. Sepertinya dari balik semak itu.” Serigala tua tak tahan lagi. Perutnya makin keroncongan. Ia melompati semak itu, dan “Bruuuk!” “Sial! Cuma selembar kulit domba.” Ia memaki-maki kemudian membuangnya. Seorang gembala pasti tidak sengaja menjatuhkan kulit domba yang bagus dan lebar itu. Tapi kulit itu tidak berguna bagi serigala. Dengan lemas, serigala tua berjalan lagi. Sampai di persimpangan jalan setapak ia berhenti. Sepertinya ia mendapat ide. “Kali ini pasti berhasil!” Ia melompat-lompat kemudian berlari kembali ke semak-semak tadi. Kulit itu ia bawa ke sarangnya. Lalu berputar-putar di depan cermin dengan memakai kulit domba sebagai bajunya. “Aha, aku akan menyamar,” Serigala tua menyeringaikan taringnya yang tajam.
Tak lama kemudian. “Asik, bocah gembala itu tidak mengenaliku,” Serigala tua berjalan mengendap-endap di tengah kerumunan domba, “Anjing-anjing juga.” Domba-domba di padang rumput juga tidak menyadari ada domba asing di antara mereka. “Sebab kulit dan bau badanku sama dengan mereka, mbeeek...” Serigala tua bicara sendiri dan mulai menirukan suara domba. “Paman, apakah paman tahu dimana ibuku?” Seekor anak domba menanyai serigala tua. “Tentu aku tahu, anak manis,” Jawab serigala tua, “Aku akan mengantarmu menemuinya.” “Terima kasih, Paman.” “Ayo kita temui ibumu!” Ajak Serigala dengan licik.
Maka serigala tua mulai beraksi. Ia menggiring anak domba yang malang itu ke tempat yang terpisah jauh dari domba lain. “Paman, mengapa kita berjalan ke sini?” Domba kecil heran. “Ibumu sedang mencari rumput di balik batu besar itu,” Jawabnya. “Bagaimana menurutmu kalau kita mengejutinya dari belakang, anak manis?” “Oh, ya? Aku senang, itu ide bagus.” Domba kecil tersenyum girang. “Nah, mulai sekarang kita berjalan tanpa suara. Kamu di depan, ya.” Domba kecil menyetujui saran serigala tua. Dan sampai di sana. “Di mana ibuku, Paman?” Tanya domba kecil menengok ke belakang. Kulit domba di tubuh serigala tua sudah terlepas. “P-paman... a-ada-lah... sri – ga – la...” Ia terkejut dan mencoba berlari. Tapi serigala lebih cepat menangkapnya. Domba kecil berusaha melepaskan diri dan berteriak minta tolong. Tapi tidak ada yang mendengar.
Mereka terlalu jauh dari kumpulan domba dan sang gembala. Domba kecil itu kehabisan tenaga. Akhirnya ia menjadi santapan serigala tua. Begitulah setiap hari. Serigala tua selalu berhasil menyamar dan menipu domba-domba, dan memakan anak-anak domba satu per satu. Apa yang tampak oleh mata sering membuat kita terkecoh.
Rubah dan Buah Anggur
Rubah tua yang licik sedang bersedih. Sudah seharian ini dia berkeliling melintasi hutan yang lebat dan naik turun bukit, tetapi tanpa hasil. Dia tidak bisa menemukan sepotong makanan pun untuk dimakan, bahkan ia tidak bisa menangkap seekor pun tikus ladang. Dia merasakan perutnya benar benar-kosong, seumur hidupnya baru kali ini ia merasakan benar-benar kelaparan. Dan dia benar-benar merasa haus, benar-benar kehausan. Lehernya terasa terbakar.Pada saat itulah ia sampai di sebuah tembok batu, dan di sanalah ia menemukan sesuatu yang hampir seperti keajaiban. Di sana, di depannya, ada pohon anggur yang diranting-rantingnya penuh bergantung buah anggur yang ranum, menunggu untuk dimakan. Buah anggur itu bulat berisi dan berair, udara dipenuhi dengan aroma buah anggur.
Rubah itu tidak membuang-buang waktu. Dia mengambil ancang-ancang lalu lari melompat berusaha menggapai buah anggur di ranting yang terendah dengan moncongnya yang lapar - tapi dia gagal! Dia melompat lagi, kali ini lebih tinggi. Tapi lagi-lagi dia tidak bisa mendapatkan sebuah anggur pun. Ketika ia gagal untuk ketiga kalinya, ia lalu duduk sebentar, lidahnya menjulur, matanya menatap puluhan buah anggur yang menggantung diluar jangkauannya.
Pemandangan itu terlalu menyakitkan bagi serigala yang sangat lapar itu, ia melompat dan melompat, meloncat sampai kepalanya pusing. Akhirnya dia kemudian duduk dan melihat ke arah buah anggur itu dengan rasa penasaran.
"Betapa bodohnya saya," katanya. "Disini saya terus mencoba untuk mengambil buah anggur yang sebetulnya tidak enak untuk dimakan." ia menyadari buah anggur itu benar-benar tidak bisa dicapainya, sama seperti dia tidak bisa menggapai bintang di langit. Dengan kesal ia melangkah pergi.
"Ah, baiklah!" ia bergumam pada dirinya sendiri," lagi pula siapa yang mau makan buah anggur yang berulat itu! Buah itu masam! Masam! Aku pun tidak mau makan jika bisa mendapatkannya!"
"Ha Ha!" seekor burung gagak tertawa. Dia mengamati tidak jauh dari sebuah pohon. "Coba beri dia seikat buah anggur itu, dan kamu bisa lihat apakah mereka benar benar masam."
Pesan Moral: Banyak manusia yang berpura-pura mengacuhkan dan memperkecil arti sesuatu yang tidak dapat mereka capai.Pengarang: Aesop
Langganan:
Postingan (Atom)
