Kamis, 02 Juni 2016

Hans Christian Andersen

Hans Christian Andersen adalah penulis dan penyair dari Denmark . Popularitas Andersen tidak terbatas pada anak-anak, cerita mengungkapkan tema yang melampaui usia dan kebangsaan.

Dongeng Andersen, yang telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 125 bahasa, telah menjadi budaya tertanam dalam kesadaran kolektif Barat, mudah diakses anak-anak, tetapi menyajikan pelajaran kebajikan dan ketahanan dalam menghadapi kesulitan untuk pembaca dewasa juga. Mereka telah menginspirasi film, drama, balet, dan film animasi.


MASA KECIL HANS

Andersen lahir di kota Odense, Denmark, pada Selasa, April 2, 1805. Dia adalah anak tunggal. Ayah Andersen (panggilan Hans Christian Andersen) adalah tukang sepatu rendahan, ia sering diejek teman-temannya sebagai anak tukang sepatu dan anak miskin. Oleh karena itu ia sering tidak punya teman karena teman-temannya menjauhinya.

Andersen sering menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Walaupun ayahnya hanya tukang sepatu, tetapi ayah Andersen, yang telah menerima pendidikan dasar, memperkenalkan Andersen dengan sastra. Dari situ ayahnya sering membacakan puisi kepada Andersen yang masih kecil. Dengan jari jemarinya yang terampil, ayah Andersen mengajarinya membuat berbagai mainan dan boneka.

Andersen sering mengkhayalkan sesuatu ketika ia selesai membaca buku. Ia membenamkan diri dalam dunia khayalannya. Ia sering membuat boneka, bersandiwara dan bercerita. Ia benar-benar asyik dengan dunianya. Begitulah anak kesepian ini menghabiskan waktunya.



KARIR SEPANJANG HIDUPNYA



Sebuah dongeng yang sangat awal oleh Andersen yang berjudul The Tallow Candle ditemukan dalam arsip Denmark pada Oktober 2012. Kisah, yang ditulis tahun 1820-an itu, adalah tentang lilin yang tidak merasa dihargai. Ini ditulis saat ia masih di sekolah dan didedikasikan untuk seorang dermawan, dalam kepemilikan yang keluarga itu tetap sampai muncul di antara kertas keluarga lainnya dalam koper di arsip lokal.

Pada tahun 1829, Andersen menikmati kesuksesan besar dengan sebuah cerita pendek berjudul Perjalanan di Kaki dari Canal Holmen untuk Point Timur Amager. Dalam buku tersebut, protagonis memenuhi karakter mulai dari Saint Peter dengan kucing berbicara.

Dia mengikuti keberhasilan ini dengan sepotong teater, Cinta di St Nicholas Church Tower dan volume pendek puisi. Meskipun ia membuat sedikit kemajuan menulis dan menerbitkan segera sesudahnya, pada tahun 1833 ia menerima hibah perjalanan kecil dari Raja, yang memungkinkan dia untuk berangkat pada yang pertama dari banyak perjalanan melalui Eropa.

Pada Jura, dekat Le Locle, Swiss, ia menulis cerita, Agnete dan Merman. Ia menghabiskan malam di desa pantai Italia Sestri Levante tahun yang sama, inspirasi nama, The Bay of Fables. Pada bulan Oktober 1834, ia tiba di Roma. Perjalanan Andersen di Italia akan tercermin dalam novel pertamanya, sebuah otobiografi berjudul The Improvisatore yang diterbitkan pada tahun 1835, menerima pengakuan instan.



KARYA-KARYA ANDERSON

The Little Match Girl, The Emperor’s New Clothes, The Ugly Duckling, The Little Mermaid adalah dongeng yang telah dihasilakn Andersen dan menjadi karya sepanjang masa. Sampai saat ini karya-karyanya yang berupa animasi masih sering diputar saat libur sekolah tiba.

Hans Christian Andersen Telah Menjadi ahli dongeng yang dihormati di seluruh dunia. Ia berhasil mewujudkan mimpinya. Menjadi aktor besar dan juga legenda hingga sekarang.

Hans Christian Andersen tutup usia pada tanggal 4 Agustus 1975. Ia meninggal dengan tenang dan meninggalkan karya besar yang hidup di hati anak-anak hingga sekarang.

Serigala Berbulu Domba


Seekor serigala tua berjalan terseok-seok di padang rumput. Dari kejauhan, ia tak henti menoleh ke kawanan domba yang bergerak seperti awan ditiup angin. Serigala tua menghadapi kesulitan terbesar sekarang. Ia tidak bisa lagi memburu domba-domba itu. “Padahal, kalau tidak memangsa domba aku bisa mati kelaparan.”

Serigala Berbulu Domba

Di kayu rebah di gundukan bukit, ia berhenti lalu duduk memandangi padang rumput. “Anak-anak domba yang gemuk. Dagingnya pasti manis dan empuk, mmmh.” “Matilah aku, matilah aku...” Katanya lagi. Ia ingin berhenti melihat ke sana. Pemandangan itu membuatnya makin lapar. Serigala tua mencari siasat. Setiap kali menemukan siasat, ia segera putus asa. Ada bocah gembala di antara kawanan domba, yang membuat serigala tua tak bisa menangkap seekor domba pun.

Serigala tua ingat saat pertama kali hendak menangkap domba milik gembala itu. “HEEEAHHH...!!! Pergi kamu, Serigala tua! Tidak akan ada lagi domba untukmu!” “Uphs...” Serigala tua terkejut dan bermaksud berlari menyelamatkan diri. Tapi, tongkat panjang sang gembala menggebukinya sampai terguling-guling. Meski terluka parah, serigala tua berhasil menyelamatkan diri. Bocah itu benar-benar waspada. Setiap serigala tua mendekat ke arah domba, bocah gembala itu sudah mengejarnya lebih dahulu dengan mengayunkan tongkatnya. Setiap hari bocah itu berhasil memukuli serigala tua. “Aaah, pukulan tongkat itu sungguh menyakitkan.” Serigala tua itu mendengus kesal. 

Meski selalu berhasil melarikan diri, serigala tua selalu terluka parah. Bocah gembala itu tidak sendirian. “Anjing-anjing gembala juga selalu berhasil menggigitku,” Serigala tua berpikir sambil mondar-mandir. Ia hampir putus asa. “Aku harus mencari mangsa lain,” Serigala tua berhenti mondar-mandir, “Aku harus berjalan-jalan, mungkin akan dapat seekor tikus atau tupai tanah.

Ia berjalan ke arah tepian padang yang agak tandus. “Semoga ada sisa buruan burung nazar.” Kemudian serigala tua mengendus-enduskan hidungnya ke udara. Biasanya angin meniupkan bau-bauan makanan. Tiba-tiba, ia mencium sesuatu. Sepertinya bukan bau daging segar, tapi ia kenal bau itu. “Slrrrrp, Lumayan. Bau daging domba yang dikeringkan. Barangkali saja dendeng?” Serigala tua itu sering melihat petani dan gembala mengunyah dendeng domba. Dari cara mereka memakan dendeng itu seiris demi seiris, air liur serigala tua menetes. Slrrrrp...

“Yihaaa! Baunya sudah dekat. Sepertinya dari balik semak itu.” Serigala tua tak tahan lagi. Perutnya makin keroncongan. Ia melompati semak itu, dan “Bruuuk!” “Sial! Cuma selembar kulit domba.” Ia memaki-maki kemudian membuangnya. Seorang gembala pasti tidak sengaja menjatuhkan kulit domba yang bagus dan lebar itu. Tapi kulit itu tidak berguna bagi serigala. Dengan lemas, serigala tua berjalan lagi. Sampai di persimpangan jalan setapak ia berhenti. Sepertinya ia mendapat ide. “Kali ini pasti berhasil!” Ia melompat-lompat kemudian berlari kembali ke semak-semak tadi. Kulit itu ia bawa ke sarangnya. Lalu berputar-putar di depan cermin dengan memakai kulit domba sebagai bajunya. “Aha, aku akan menyamar,” Serigala tua menyeringaikan taringnya yang tajam.

Tak lama kemudian. “Asik, bocah gembala itu tidak mengenaliku,” Serigala tua berjalan mengendap-endap di tengah kerumunan domba, “Anjing-anjing juga.” Domba-domba di padang rumput juga tidak menyadari ada domba asing di antara mereka. “Sebab kulit dan bau badanku sama dengan mereka, mbeeek...” Serigala tua bicara sendiri dan mulai menirukan suara domba. “Paman, apakah paman tahu dimana ibuku?” Seekor anak domba menanyai serigala tua. “Tentu aku tahu, anak manis,” Jawab serigala tua, “Aku akan mengantarmu menemuinya.” “Terima kasih, Paman.” “Ayo kita temui ibumu!” Ajak Serigala dengan licik.

Maka serigala tua mulai beraksi. Ia menggiring anak domba yang malang itu ke tempat yang terpisah jauh dari domba lain. “Paman, mengapa kita berjalan ke sini?” Domba kecil heran. “Ibumu sedang mencari rumput di balik batu besar itu,” Jawabnya. “Bagaimana menurutmu kalau kita mengejutinya dari belakang, anak manis?” “Oh, ya? Aku senang, itu ide bagus.” Domba kecil tersenyum girang. “Nah, mulai sekarang kita berjalan tanpa suara. Kamu di depan, ya.” Domba kecil menyetujui saran serigala tua. Dan sampai di sana. “Di mana ibuku, Paman?” Tanya domba kecil menengok ke belakang. Kulit domba di tubuh serigala tua sudah terlepas. “P-paman... a-ada-lah... sri – ga – la...” Ia terkejut dan mencoba berlari. Tapi serigala lebih cepat menangkapnya. Domba kecil berusaha melepaskan diri dan berteriak minta tolong. Tapi tidak ada yang mendengar.

Mereka terlalu jauh dari kumpulan domba dan sang gembala. Domba kecil itu kehabisan tenaga. Akhirnya ia menjadi santapan serigala tua. Begitulah setiap hari. Serigala tua selalu berhasil menyamar dan menipu domba-domba, dan memakan anak-anak domba satu per satu. Apa yang tampak oleh mata sering membuat kita terkecoh.

Rubah dan Buah Anggur

Rubah tua yang licik sedang bersedih. Sudah seharian ini dia berkeliling melintasi hutan yang lebat dan naik turun bukit, tetapi tanpa hasil. Dia tidak bisa menemukan sepotong makanan pun untuk dimakan, bahkan ia tidak bisa menangkap seekor pun tikus ladang. Dia merasakan perutnya benar benar-kosong, seumur hidupnya baru kali ini ia merasakan benar-benar kelaparan. Dan dia benar-benar merasa haus, benar-benar kehausan. Lehernya terasa terbakar.

Pada saat itulah ia sampai di sebuah tembok batu, dan di sanalah ia menemukan sesuatu yang hampir seperti keajaiban. Di sana, di depannya, ada pohon anggur yang diranting-rantingnya penuh bergantung buah anggur yang ranum, menunggu untuk dimakan. Buah anggur itu bulat berisi dan berair, udara dipenuhi dengan aroma buah anggur.

Rubah itu tidak membuang-buang waktu. Dia mengambil ancang-ancang lalu lari melompat berusaha menggapai buah anggur di ranting yang terendah dengan moncongnya yang lapar - tapi dia gagal! Dia melompat lagi, kali ini lebih tinggi. Tapi lagi-lagi dia tidak bisa mendapatkan sebuah anggur pun. Ketika ia gagal untuk ketiga kalinya, ia lalu duduk sebentar, lidahnya menjulur, matanya menatap puluhan buah anggur yang menggantung diluar jangkauannya.

Pemandangan itu terlalu menyakitkan bagi serigala yang sangat lapar itu, ia melompat dan melompat, meloncat sampai kepalanya pusing. Akhirnya dia kemudian duduk dan melihat ke arah buah anggur itu dengan rasa penasaran.

"Betapa bodohnya saya," katanya. "Disini saya terus mencoba untuk mengambil buah anggur yang sebetulnya tidak enak untuk dimakan." ia menyadari buah anggur itu benar-benar tidak bisa dicapainya, sama seperti dia tidak bisa menggapai bintang di langit. Dengan kesal ia melangkah pergi.

"Ah, baiklah!" ia bergumam pada dirinya sendiri," lagi pula siapa yang mau makan buah anggur yang berulat itu! Buah itu masam! Masam! Aku pun tidak mau makan jika bisa mendapatkannya!"

"Ha Ha!" seekor burung gagak tertawa. Dia mengamati tidak jauh dari sebuah pohon. "Coba beri dia seikat buah anggur itu, dan kamu bisa lihat apakah mereka benar benar masam."


Pesan Moral: Banyak manusia yang berpura-pura mengacuhkan dan memperkecil arti sesuatu yang tidak dapat mereka capai.Pengarang: Aesop

AESOP (Pendongeng Fabel)

Banyak sekali pendongeng dunia yang karyanya sangat terkenal, namun berbanding terbalik dengan penciptanya. Salah satunya adalah Aesop, pendongeng asal Yunani. Tak banyak yang mengenal Aesop, bahkan kematiannya pun masih menjadi misteri.
Sebelumnya, aku sudah bahas tentang Grimm bersaudara dan beberapa karyanya. Sekarang giliran Aesop, pendongeng asal Yunani yang telah menciptakan dongeng-dongeng legendaris namun nyatanya masih banyak yang tidak mengenalnya.
Aesop terkenal dengan fabelnya, cerita pendek yang memberi pelajaran tentang kehidupan. Banyak Fabel Aesop menokohkan binatang yang dapat berbicara dan bertingkah laku seperti manusia. Tidak banyak yang diketahui tentang Aesop. Diperkirakan dia lahir di Asia tahun 620 SM.
Dulu ada seorang Yunani kaya bernama Iadmon membeli Aesop dan menjadikannya budak rumah tangga. Aesop jelek, pincang, dan hitam. Karena kulit hitamnya, orang Yunani memanggilnya Ethiop, atau Aesop, karena mereka percaya bahwa semua orang berkulit hitam berasal dari negara Afrika Ethiopia.
Aesop tidak berpendidikan, tapi dia tahu banyak tentang orang-orang dan cara mereka berperilaku. Ketika berada di rumah Iadmon, dia memiliki kesempatan untuk melihat dan mendengar tentang orang-orang penting dari masyarakat dan politik Yunani. Segera Aesop mulai menceritakan kisah indah tentang hewan yang berbicara dan berperilaku seperti orang-orang Yunani. Kadang-kadang cerita ini lucu, seringkali juga mengandung komentar pahit tentang kehidupan orang Yunani.
Iadmon menyukai cerita yang dibawakan Aesop. Dia mulai mengajaknya ke rumah orang-orang penting lainnya di mana Aesop bercerita tentang hewan baru, selalu dengan nilai moral yang di akhir. Ketenaran Aesop menyebar, dan pada waktu itu Iadmon membebaskannya. Aesop menghabiskan sebagian besar hidupnya pergi dari satu rumah orang kaya ke rumah orang kaya lain, menceritakan kisah pada perjamuan dan pertemuan besar orang-orang penting Yunani.
Fabel-fabelnya kemudian ditulis dan dikumpulkan sekitar tahun 300 SM. Fabel Aesop yang terkenal di antaranya "Rubah dan Anggur" dan "Serigala Berbulu Domba."

Anak Gembala Yang Bijaksana

Gembala kecil yang bijaksanaDahulu kala, ada seorang gembala kecil yang terkenal sampai jauh dimana-mana karena bisa memberi jawaban yang bijaksana atas semua pertanyaan yang diberikan kepadanya. Kabar tersebut sampai ke telinga Raja di kerajaan itu, tetapi sang Raja sendiri kurang percaya dengan apa yang orang kabarkan tentang gembala kecil itu, karena itu, anak gembala tersebut diperintahkan untuk datang dan menghadap ke istana. Ketika dia tiba, Raja berkata kepadanya: "Jika kamu dapat memberikan jawaban dari tiga pertanyaan yang akan saya berikan kepadamu, aku akan menganggap kamu sebagai anak saya sendiri, dan kamu akan hidup berbahagia dengan saya di istanaku."
"Apakah ketiga pertanyaan itu, paduka?" tanya anak gembala itu.
"Yang pertama adalah, berapa banyak tetesan air yang ada di laut?"
"Tuanku Paduka," jawab anak gembala, "hentikanlah semua tetesan air yang ada di bumi sehingga tidak ada satu tetespun yang akan masuk ke laut sebelum saya menghitungnya, dan saat itu, saya akan memberitahu Paduka berapa banyak tetesan yang ada di laut!"
"Pertanyaan kedua," kata Raja, "Berapa banyak bintang yang ada di langit?"
"Beri aku selembar kertas besar," kata anak itu, kemudian ia membuat begitu banyak lubang dengan sebuah jarum sehingga terlalu banyak dan tidak memungkinkan untuk dihitung. Saat selesai si Anak Gembala berkata : "Jumlah bintang yang ada di langit sama banyaknya dengan lubang yang ada di kertas ini, adakah yang mampu menghitungnya?" Tapi tak seorang pun bisa menghitungnya. Kemudian Raja berkata lagi "Pertanyaan ketiga adalah, berapa detik yang ada dalam keabadian"
"Di kerajaan ini, terletak gunung adamantine, satu mil tingginya, satu mil lebarnya, dan satu mil dalamnya, dan tiap seribu tahun, seekor burung datang untuk menggosok paruhnya ke gunung tersebut, dan, saat seluruh gunung telah di gosok oleh sang Burung, maka detik pertama dari keabadian pun berlalu."
"Kamu telah menjawab tiga pertanyaan saya secara bijak," kata sang Raja, "dan untuk selanjutnya kamu akan hidup bersama saya di istana, dan saya akan memperlakukan kamu sebagai anak saya sendiri."

Dongeng Saudagar Jerami Dari Jepang

Dahulu kala, ada seorang pemuda miskin yang bernama Taro. Ia bekerja untuk ladang orang lain dan tinggal dilumbung rumah majikannya. Suatu hari, Taro pergi ke kuil untuk berdoa. "Wahai, Dewa Rahmat! Aku telah bekerja dengan sungguh-sungguh, tapi kehidupanku tidak berkercukupan". 


"Tolonglah aku agar hidup senang". Sejak saat itu setiap selesai bekerja, Taro pergi ke kuil. Suatu malam, sesuatu yang aneh membangunkan Taro. Di sekitarnya menjadi bercahaya, lalu muncul suara. "Taro, dengar baik-baik. Peliharalah baik-baik benda yang pertama kali kau dapatkan esok hari. Itu akan membuatmu bahagia." 

Keesokan harinya ketika keluar dari pintu gerbang kuil, Taro jatuh terjerembab. Ketika sadar ia sedang menggenggam sebatang jerami. "Oh, jadi yang dimaksud Dewa adalah jerami, ya? Apa jerami ini akan mendatangkan kebahagiaan…?", pikir Taro.

Walaupun agak kecewa dengan benda yang didapatkannya Taro lalu berjalan sambil membawa jerami. Di tengah jalan ia menangkap dan mengikatkan seekor lalat besar yang terbang dengan ributnya mengelilingi Taro di jeraminya. Lalat tersebut terbang berputar-putar pada jerami yang sudah diikatkan pada sebatang ranting. "Wah menarik ya", ujar Taro. Saat itu lewat kereta yang diikuti para pengawal.

Di dalam kereta itu, seorang anak sedang duduk sambil memperhatikan lalat Taro. "Aku ingin mainan itu." Seorang pengawal datang menghampiri Taro dan meminta mainan itu. "Silakan ambil", ujar Taro. Ibu anak tersebut memberikan tiga buah jeruk sebagai rasa terima kasihnya kepada Taro. "Wah, sebatang jerami bisa menjadi tiga buah jeruk", ujar Taro dalam hati.

Ketika meneruskan perjalanannya, terlihat seorang wanita yang sedang beristirahat dan sangat kehausan. "Maaf, adakah tempat di dekat sini mata air ?", tanya wanita tadi. "Ada dikuil, tetapi jaraknya masih jauh dari sini, kalau anda haus, ini kuberikan jerukku", kata Taro sambil memberikan jeruknya kepada wanita itu. "Terima kasih, berkat engkau, aku menjadi sehat dan segar kembali". 

Terimalah kain tenun ini sebagai rasa terima kasih kami, ujar suami wanita itu. Dengan perasaan gembira, Taro berjalan sambil membawa kain itu. Tak lama kemudian, lewat seorang samurai dengan kudanya. Ketika dekat Taro, kuda samurai itu terjatuh dan tidak mampu bergerak lagi. "Aduh, padahal kita sedang terburu-buru."

Para pengawal berembuk, apa yang harus dilakukan terhadap kuda itu. Melihat keadaan itu, Taro menawarkan diri untuk mengurus kuda itu. Sebagai gantinya Taro memberikan segulung kain tenun yang ia dapatkan kepada para pengawal samurai itu.

Taro mengambil air dari sungai dan segera meminumkannya kepada kuda itu. Kemudian dengan sangat gembira, Taro membawa kuda yang sudah sehat itu sambil membawa 2 gulung kain yang tersisa. Ketika hari menjelang malam, Taro pergi ke rumah seorang petani untuk meminta makanan ternak untuk kuda, dan sebagai gantinya ia memberikan segulung kain yang dimilikinya.

Petani itu memandangi kain tenun yang indah itu, dan merasa amat senang. Sebagai ucapan terima kasih petani itu menjamu Taro makan malam dan mempersilakannya menginap di rumahnya. Esok harinya, Taro mohon diri kepada petani itu dan melanjutkan perjalanan dengan menunggang kudanya. Tiba-tiba di depan sebuah rumah besar, orang-orang tampak sangat sibuk memindahkan barang-barang. "Kalau ada kuda tentu sangat bermanfaat," pikir Taro.

Kemudian taro masuk ke halaman rumah dan bertanya apakah mereka membutuhkan kuda. Sang pemilik rumah berkata,"Wah kuda yang bagus. Aku menginginkannya, tetapi aku saat ini tidak mempunyai uang.

Bagaimanan kalau ku ganti dengan sawahku ?". "Baik, uang kalau dipakai segera habis, tetapi sawah bila digarap akan menghasilkan beras, Silakan kalau mau ditukar", kata Taro. "Bijaksana sekali kau anak muda. Bagaimana jika selama aku pergi ke negeri yang jauh, kau tinggal disini untuk menjaganya ?", Tanya si pemilik rumah. "Baik, Terima kasih Tuan". Sejak saat itu taro menjaga rumah itu sambil bekerja membersihkan rerumputan dan menggarap sawah yang didapatkannya. 

Ketika musim gugur tiba, Taro memanen padinya yang sangat banyak. Semakin lama Taro semakin kaya. Karena kekayaannya berawal dari sebatang jerami, ia diberi julukan "Saudagar Jerami". Para tetangganya yang kaya datang kepada Taro dan meminta agar putri mereka dijadikan istri oleh Taro. 

Tetapi akhirnya, Taro menikah dengan seorang gadis dari desa tempat ia dilahirkan. Istrinya bekerja dengan rajin membantu Taro. Merekapun dikaruniai seorang anak yang lucu. Waktu terus berjalan, tetapi Si pemilik rumah tidak pernah kembali lagi. Dengan demikian, Taro hidup bahagia bersama keluarganya.

Dongeng Momotaro dari Jepang

Zaman dahulu di suatu tempat hiduplah sepasang kakek-nenek. Setiap hari, kakek ke hutan mengumpulkan kayu bakar, sedangkan nenek ke sungai mencuci. Ketika nenek sedang mecuci, dari hulu sungai hanyutlah momo (buah peach) Nenek memungut momo itu.

“Sepertinya, momo ini manis.” Nenek mengambil momo yang besar itu dan membawanya pulang.Malam pun tiba. Kakek pulang memikul kayu bakar. “Nenek, nenek, kakek sudah pulang.”

“Kakek, ya, selamat datang. Hari ini, nenek menemukan momo yang besar di sungai. Sekarang ada di lemari…” kata nenek sambil mengeluarkan momo itu dan meletakkannya di atas talenan. Lalu, nenek menempelkan pisau dapur pada momo tersebut untuk membelahnya. Tapi, momo tersebut membelah sendiri dan dari dalamnya keluar anak laki-laki yang lucu. Begitu keluar anak laki-laki itu langsung menangis. Kakek dan nenek terkejut.

“A,aduh, gawat ini.” Kakek dan nenek panik. Setelah tangisnya reda kakek berkata, “Karena anak ini muncul dari dalam momo, kita harus menamainya Momotaro.” Begitulah Momotaro dinamai.Kakek dan nenek memberi Momotaro bubur, ikan dan merawatnya dengan hati-hati.

Kalau Momotaro diberi semangkuk nasi, dia akan makan semangkuk. Kalau Momotaro diberi dua mangkuk nasi, Momotaro akan makan dua mangkuk. Tak terasa Momotaro tumbuh jadi besar. Lalu, kalau dia diajari berhitung satu, maka dia dapat menghitung sampai sepuluh. Akibatnya Momotaro jadi terkenal.

Selain itu, tenaganya makin lama makin kuat, dan tanpa disadari tak seorangpun anak-anak di sekitarnya dapat menyaingi kemampuan Momotaro. Pintar, kuat dan berbakat. Momotaro jadi anak yang hebat. Karena Momotaro sangat lucu, kakek dan nenek makin gembira membesarkannya.Suatu hari, Momotaro menghadap kakek dan nenek, duduk di depan kakek dan nenek dan memohon sambil berkata, “Kakek, nenek. Karena aku sudah besar aku mau pergi ke pulau hantu untuk menaklukkan hantu yang suka merampas barang manusia. Tolong buatkan bekal kibi dango (sejenis kue mochi yang berisi kacang) paling enak di Jepang.”

Kakek dan nenek serentak berkata, “Kau masih kecil. Bagaimana pun juga kau masih kecil. Untuk apa kau ke pulau hantu, menangkap para hantu itu?”

Walaupun sudah dilarang, Momotaro tak peduli. “Kakek, nenek, aku memang sendirian, tapi 50 atau 100 ekor hantu bukan masalah buatku.”

“Kalau begitu baiklah,” kata kakek dan nenek.

Tak lama berselang Momotaro dibuatkan bekal kibi dango paling enak di Jepang. Kemudian Momotaro juga diberi ikat kepala hachimaki, celana lebar hakama dan pedang pendek yang baru. Lalu, di punggungnya juga di dipasangkan bendera bertuliskan ‘Momotaro terkuat nomor satu di Jepang’.

Momotaro berangkat ke pulau hantu. Pada saat akan meninggalkan desa seekor anjing terus-menerus menyalak mengikuti Momotaro.

“Momotaro, Momotaro, kau mau pergi ke mana?”“Ke pulau hantu, menaklukkan hantu.”“Aku mau menemanimu ke pulau hantu asalkan kau mau memberiku sebuah kibi dango.”“Baiklah, kalau begitu kau jadi anak buahku. Kalau kau makan kibi dango ini kekuatanmu akan betambah 1000 kali lipat,” kata Momotaro mengeluarkan sebuah kibi dango dari kantong dan menyerahkan pada anjing itu. Anjing jadi anak buah Momotaro.

Tak lama kemudian, burung gagak berkoak-koak mendekati Momotaro. Lalu, sama seperti anjing, Momotaro memberinya sebuah kibi dango dan menjadikan burung gagak itu anak buahnya. Lalu, beberapa saat kemudian, monyet berteriak-teriak mendekati Momotaro. Monyet pun menjadi anak buah Momotaro setelah diberi sebuah kibi dango.

Momotaro jadi jendral, anjing jadi pembawa bendera, monyet jadi pembawa pedang. Mereka melanjutkan perjalanan ke pulau hantu. Sampailah Momotaro dan ketiga anak buahnya di depan gerbang yang hitam dan besar di pulau hantu. Langsung saja monyet mengetuk pintu gerbang.

Dari dalam terdengar suara. “Siapa itu?” Lalu keluarlah setan merah.

“Aku Momotaro terkuat nomor satu di Jepang. Aku ke pulau hantu ini untuk menaklukkan hantu. Enyahah kalian semua.”

Setelah mengatakan itu, Momotaro menghunus dan menusukkan pedangnya. Monyet bertarung dengan tombak, sedang burung gagak dan anjing dengan pedang. Anak-anak hantu yang ada di tempat itu ribut besar dan lari ke dalam. Di dalam banyak hantu-hantu berkumpul sedang pesta sake. 

Momotaro masuk ke dalam untuk mengejar anak hantu.“Apa, Momotaro?” kata hantu-hantu linglung dan keluar dengan sempoyongan. Karena Momotaro dan ketiga anak buahnya sudah makan kibi dango yang membuat mereka jadi prajurit perkasa yang kekuatannya bertambah jadi 1000 kali lipat. Hantu dapat dikalahkan, dilempar-lempar dan ditusuk-tusuk.

“Kami sama sekali tak dapat mengimbangi. Ampunilah jiwa kami. Mulai hari ini kami tak akan berbuat jahat lagi.” Jendral hantu hitam memohon di hadapan Momotaro. Dari matanya yang besar mengalir setetes air mata. Kepalanya dibenturkan ke tanah meminta ampun.

“Baiklah, kalau memang kalian tak akan berbuat jahat lagi, maka jiwa kalian kuampuni.” Momotaro mengampuni hantu-hantu itu.

“Kami tak akan pernah berbuat jahat lagi. Semua barang-barang berharga ini kuserahkan padamu.” Janji jenderal hantu. Lalu memerintahkan bawahannya untuk memindahkan barang-barang rampasan yang ada di gudang, barang-barang yang selama ini dirampas dari manusia.

Momotaro menaikkan barang-barang itu ke atas kendaraannya dan menyuruh anjing, monyet dan burung gagak menariknya untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh untuk kakek dan nenek.Peristiwa ini sampai juga ke telinga bidadari. Bidadari memberi Momotaro hadiah yang sangat banyak. Lalu, Momotaro hidup bahagia bersama kakek dan nenek.
 

DONGENG Template by Ipietoon Cute Blog Design