Kamis, 02 Juni 2016

Putusan Karakoush

Pada suatu malam seseorang terlihat mengendap-endap di pekarangan sebuah rumah. Rupanya ia hendak mencuri di rumah tersebut. Setelah merasa aman, ia mencoba membuka salah satu jendela rumah tersebut. Namun naas baginya, sewaktu mengungkit daun jendela, karena tidak dipaku dengan kuat, ia terjatuh tunggang-langgang ... See Moreke dalam dan kakinya patah. 

Pagi harinya ia menghadap Karakoush, sang wali negara, untuk mengadukan nasibnya. “Wahai tuanku,” lapornya, “Tadi malam hamba hendak masuk ke sebuah rumah untuk mengambil harta pemiliknya, namun karena jendela rumah itu tidak dipaku dengan teguh, akhirnya hamba terjatuh ke dalam rumah dan kaki hamba menjadi patah karenanya.” Sambil memperlihatkan kakinya yang patah, ia meneruskan kata-katanya, “Hamba mohon keadilan paduka untuk menghukum pemilik rumah tersebut.” Mendengar permohonan tersebut sang wali negara dengan suara keras memerintahkan pengawalnya agar pemilik rumah itu dibawa menghadap ke pengadilan. 

Sesampainya sang pemilik rumah ke sana, ia langsung diinterogasi oleh wali negara, “Kamu pemilik rumah yang ceroboh !!! Mengapa jendela rumahmu tidak kaupaku dengan kuat sehingga pencuri ini tidak bisa berpegangan dengan kuat pada jendela dan dia terjatuh sampai menyebabkan kakinya patah ??!!!”. Sejenak pemilik rumah itu tertegun. Mengapa ia dipersalahkan atas tuduhan yang amat aneh ini ?? Apakah dapat dibenarkan seorang pencuri mempersalahkan orang yang hendak dia ambil hartanya karena kegagalan dalam melaksanakan kejahatannya ? Namun si pemilik rumah sadar bahwa berdebat dengan Karakoush hanya akan membuat nasibnya malah lebih celaka lagi. Karena itu ia pun segera menjawab, “Wahai tuanku, sesungguhnya kesalahan itu bukan terletak padaku, tapi pada tukang kayu yang mengerjakan pembangunan rumahku. Jika saja ia bekerja dengan baik, memaku daun jendela itu dengan kuat, tentu pencuri ini tidak akan terjatuh dan menderita patah kaki seperti ini.” 

Mendengar penjelasan si pemilik rumah, Karakoush pun memerintahkan para pengawalnya untuk menangkap tukang kayu yang dimaksud. Ketika dihadapkan pada pengadilan, tukang kayu itu dipersalahkan oleh wali negara dengan suara menggeledek, “Kamu tukang kayu yang ceroboh !!! Mengapa jendela rumah orang ini tidak kaupaku dengan kuat sehingga membuat jendela itu menjadi goyah dan pencuri itu bisa terjatuh lalu menderita patah kaki seperti ini ??!!!” Si tukang kayu pun sadar bahwa tak ada gunanya berdebat dengan wali negara, karenanya ia pun menyahut,”Wahai tuan, sesungguhnya ketika aku sedang mengerjakan pembangunan rumah orang ini, lewatlah seorang wanita cantik dengan pakaian warna merah. Karena aku terus memperhatikannya, aku pun tidak memaku jendela itu dengan kuat sehingga daun jendelanya mudah goyah dan menyebabkan orang ini jatuh.” Wali negara pun memerintahkan agar wanita itu dihadapkan padanya. 

Setelah hadir di persidangan, wanita itu pun dipersalahkan,”Kau yang senang memakai pakaian yang menarik hati kaum lelaki, mengapa kau memakai pakaian warna merah saat lewat di depan rumah orang ini sehingga menyebabkan tukang kayu yang mengerjakan pembangunan rumah itu memaku jendelanya jadi bengkok dan mengakibatkan pencuri ini terjatuh ke dalam dan kakinya patah ??!!!” Si wanita pun menjawab,”Kecantikanku adalah augerah Allah, tapi pakaianku adalah buatan tukang celup. Dialah yang memberi baju ini warna merah sehingga menarik perhatian tukang kayu.” Kembali dengan suara mengguntur Karakoush memerintahkan pengawalnya untuk menghadapkan si tukang celup kepadanya. 

Ketika orang yang dimaksud sudah berada di depannya, Karakoush pun membentaknya,”Kau yang suka main-main dengan warna-warna celupan, mengapa pakaian wanita ini kauberi warna merah sehingga menarik perhatian tukang kayu dan menyebabkan jendela yang dipakunya menjadi guyah dan membuat orang ini terjatuh ketika ia mengungkitnya hendak masuk ??!!!” Si tukang celup terpesona. Tak terkatakan apa-apa lagi olehnya karena ia sudah pingsan ketakutan. Oleh sebab ia tidak bisa lagi melemparkan kesalahan kepada orang lain, diputuskanlah untuk mengganjarnya dengan hukuman gantung. 

Tetapi dia adalah orang yang luar biasa tingginya, sampai-sampai mengalahkan tinggi tiang gantungan. Tergopoh-gopoh pengawal melapor bahwa tidak ada lagi tempat buat menggantung si tukang celup. Karakoush tidak mau menerima kegagalan putusannya begitu saja. Dengan marah ia perintahkan,”Carilah tukang celup lain yang lebih pendek dan gantunglah dia menggantikan orang itu.” Begitulah. Akhirnya ditemukanlah seorang tukang celup lain yang berbadan lebih pendek. Tentu saja ia meronta-ronta ketika hendak dibawa ke tiang gantungan, namun semua sia-sia dan akhirnya dialah yang dihukum gantung. 


Sumber : http://www.duniadongeng.com/2013/06/putusan-karakoush-mesir.html

Tukang Sepatu dan Harta Karun


Di Oosterlittens tinggal seorang tukang sepatu. Ia amat miskin. Nasibnya tambah buruk saja dari hari ke hari. Mengapa? Sebab anaknya banyak. Ia bingung bagaimana mengubah nasib. Pada suatu malam ia bermimpi. Pagi harinya mimpi itu ia ceritakan pada istrinya,

" Bu, semalam saya bermimpi. "
" Mimpi apa?", sahut istrinya, acuh tak acuh.
" Saya mimpi akan menemui keberuntungan di Jembatan Papenbrug di Amsterdam. "
" Untung Amsterdam itu tidak ada di depan hidungmu. " sahut istrinya. " Jika tidak, kamu akan langsung kesana. Mimpi kok dipercaya, huh! "


Tukan sepatu itu diam saja. Ia tak lagi bicara soal itu lagi. Tetapi hampir seharian tukang sepatu itu tak bisa melupakan mimpi itu. Malamnya ia mimpi lagi. Mimpi yang sama. Ia akan untung besar jika pergi ke Papenbrug di Amsterdam.

Nah, ini kan bukan main-main? Pasti ada artinya, pikirnya. Maka ia bicara lagi pada istrinya. Istrinya malahan tertawa terkekeh-kekeh dan sama sekali tidak mau mendengarkan omongannya. Akan tetapi pada hari yang ketiga ia bermimpi lagi. Mimpi yang sama lagi. Tukang sepatu itu menjadi tidak tahan. Ia amat yakin pada mimpinya. Ia pamit pada istrinya. Pokoknya ia mau ke Amsterdam. 

Sekalipun san istri ngomel panjang-pendek mengangkat bahu. Ia tidak peduli dan segera menggali tempat yang dikatakan pengemis itu. Istrinya tertawa terbahak-bahak sampai wajahnya merah... Tetapi apa yang terjadi? Betul, diantara akar-akar rumput muncul pundi-pundi. Pundi-pundi itu segera ia buka tutupnya, dan... penuh uang emas! Melihat itu, istri tukang sepatu itu terbelalak...


" Nah betul tidak? " ujar si tukang sepatu pada istrinya.
" Yang kukatakan benar bukan? Aku akan menemukan keberuntungan di Papenbrug Amsterdam. "


Istrinya tentu saja tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengiyakan, malu-malu, dan mohon ampun berkali-kali. Merekapun bersepakat akan diam-diam menyimpan rahasia penemuan harta karun itu. Uang emas itu mereka simpan di tempat tersembunyi.

Dan tukang sepatu menempatkan pundi-pundi itu di rak kerja bengkel kerjanya. Ia taruh diantara alat-alat pertukangannya. Pada pundi-pundi itu ada tulisan yang ia tak tahu artinya, sebab ditulis dalam bahasa yang tidak ia mengerti...

Pada suatu hari, datang seorang pendeta ke rumah tukang sepatu itu. Pendeta itu mau membetulkan sepatunya yang rusak. Tanpa sengaja ia melihat pundi-pundi itu. Ia tertarik dan membaca tulisan pada pundi-pundi. Ia tertegun sejenak dan bertanya,


" Darimana kamu dapat pundi-pundi ini? "
" Oh, itu saya beli di tukang loak. " kata tukang sepatu itu.
" Tahukah kamu apa yang tertulis disitu? " tanya Pendeta.
" Tidak. Saya tidak tahu bahasanya. "
Pendeta itu berdiri. Ia meneliti pundi-pundi itu sekali lagi.
" Ini bahasa Latin. " katanya.
" Dan disini tertulis bahwa dibawah pundi-pundi ini masih ada sebuah pundi lagi... Tapi saya tidak tahu apa ini maksudnya. "
Ia mengamati tukang sepatu itu dan bertanya, " Kamu tahu apa ini maksudnya? "
" Wah, mana saya tahu! " sahut tukang sepatu itu.
" Bapak pendeta saja tidak tahu, apalagi saya! Saya hanya tukang sepatu! "

Begitu Pendeta itu meninggalkan rumah, dengan tidak sabar tukang sepatu bersama istrinya itu segera menuju ladang belakang rumahnya. Ia menggali lagi. Dan, betul! Ia menemukan lagi sebuah pundi-pundi yang lebih besar. Dan isinya, bukan hanya uang emas, tapi juga segala macam perhiasan yang indah-indah dari intan dan permata...

Jadi kaya rayalah tukang sepatu itu! Sebagai peringatan akan keberuntungannya, ia membangun sebuah tugu. Tugu ini ia bangun di belakang rumahnya. Lebih seratus tahun setelahkematiannya, tugu itu masih tegak disitu. Dari apa yang tertulis pada tugu itu, kita yang hidup di jaman sekarang lalu tahu kisah keberuntungan sang tukang sepatu.

Penggembala Yang Suka Berbohong

Ada seorang anak laki-laki penggembala domba. Ia gembala yang baik Banyak domba yang dirawatnya. Semua sehat dan gemuk.

Pada suatu hari, ia menggembala di dekat sawah. Para petani sedang menanen padi. Mereka sibuk bekerja dan tidak sempat berbicara dengan gembala itu.

Timbul pikiran nakal pada gembala itu,

Tiba-tiba, "Serigala! Ada serigala!" Gembala berteriak ketakutan. "Tolong! Dombaku dimakan serigala!"

Para petani cepat-cepat meninggalkan pekerjaannya, Mereka ingin menolong mengusir serigala.

"Di mana serigalanya?" tanya seorang petani.


Gembala tersenyum-senyum. "Aku hanya bercanda saja, aku lihat kalian kerja keras sampai tidak bisa tersenyum."

Petani hanya tersenyum masam mendengar jawaban gembala. Mereka kembali bekerja walaupun agak kesal.

Beberapa hari kemudian, para petani itu masih sibuk memanen padi. Sang gembala menunggui dombanya di padang rumput tak jauh dari sawah yang sedang dipanen itu.

Para petani kembali dikejutkan teriakan gembala, "Serigala! Tolong! Tolong!"
Seperti sebelumnya, mereka segera lari mendekat. Tapi, apa yang mereka lihat, domba-domba sedang merumput dengan tenang. Gembala pun sedang tertawa-tawa.

Sekarang petani marah. "Dasar gembala kurang kerjaan!" kata seorang dari mereka. Mereka pun pergi sambil menggerutu.

Beberapa waktu berlalu, sekarang para petani sedang sibuk menanami sawah dengan tanaman padi yang baru. Tiba-tiba terdengar jeritan, "Tolong! Tolong, Dombaku dibawa lari! Serigala!"

Para petani berbicara satu sama lain, "Gembala itu berulah lagi."

"Bagaimana kalau benar ada serigala?"

"Dulu dia bohong kepada kita, biarkan saja."

"Benar, kalau dombanya benar-benar diserang serigala, biar ditanggungnya sendiri."

Tak lama kemudian, para petani berjalan pulang. Mereka melalui padang rumput. Di sana sang gembala sedang menangis. Sekelompok serigala datang menyerang, melarikan beberapa domba. Tapi tak seorang pun datang menolongnya.


Dongeng Hansel dan Gretel



Di sebuah desa pada zaman dahulu hiduplah sebuah keluarga bahagia. Mereka mempunyai dua orang anak yang manis, namanya Hans dan Gretel. Suatu ketika Ibu tercinta meninggal karena sakit. Sejak kematian sang Ibu, mereka selalu bersedih sepanjang hari.

Agar mereka tidak bersedih, kemudian Ayah mengambil Ibu baru untuk menghIbur mereka. Ternyata Ibu baru ini sangat jahat dan memperlakukan mereka dengan buruk. Dari pagi hingga petang mereka disuruh terus bekerja dan hanya diberi makan satu kali.

Musim kemarau pun tiba, dan mereka tidak mempunyai makanan apa-apa. Sang Ibu menyuruh anak-anak untuk dibawa ke hutan dan meninggalkannya di sana.
Ayah sangat terkejut mendengarnya ” Bicara apa kau, apa kau ingin anak-anak mati ?! ”” Kau ini memang bodoh, kalau kita tidak melakukannya, kita semua akan mati !”

Sementara itu dari balik kamar , Hans dan Gretel mendengarkan pembicaraan mereka. Mereka ketakutan dan Gretel pun menangis.

Akhirnya Ayah tidak bisa berbuat apa-apa karena istrinya terus mendesaknya.“Ah… apa kita akan mati di hutan ?! ”” Ssst.., aku punya ide bagus, ” ucap Hans. Lalu ia keluar rumah dan mengumpulkan batu-batu kecil putih yang bila terkena cahaya bulan, akan bersinar.

Pada esok paginya dengan berteriak keras, Ibunya membangunkan Hans dan Gretel. Sebelum berangkat ia memberikan sepotong roti kepada mereka. Setelah itu semua berangkat menuju hutan.
Sambil berjalan Hans membuang batu kecil putih satu per satu yang ada dalam kantongnya.

Karena berjalan sambil menoleh ke belakang, Ayah menjadi curiga.” Sedang apa, Hans ? ”” Aku sedang memandang kucing yang ada di atas rumah,” jawab Hans berbohong. Lalu tibalah mereka di tengah hutan.

Ayah dan Ibunya pergi ke hutan yang lebih jauh lagi untuk menebang kayu dan meninggalkan mereka.

Rasa sedihpun berganti gembira setelah di tengah hutan Hans menemukan seekor kupu-kupu dan Gretel membuat kalung dari bunga. Mereka sangat gembira karena bisa bermain-main bersama teman baru mereka seperti kelinci, bajing dan burung-burung kecil.

Tanpa terasa waktu berlalu, mataharipun mulai tenggelam dan hari mulai gelap. Suara burung-burung yang indah kini berganti dengan suara angin yang berdesir.

Gretel menangis tersedu-sedu karena takut. Hans berkata menenangkan, “Jangan menangis, jika cahaya bulan muncul, kita pasti akan pulang dengan selamat “.

Tak lama kemudian, dari sela-sela pohon muncullah cahaya bulan yang bersinar dengan terang. Hans segera mengajak Gretel untuk pulang ke rumah.

Hans memegang tangan Gretel dan menyusuri jalan di hutan tanpa ragu-ragu.
” Kak, kok bisa berjalan tanpa bingung di hutan yang gelap begini?”“Oh… batu kecil putih yang kujatuhkan ketika kita datang, bersinar karena kena sinar bulan dan itu akan menolong kita pulang ke rumah.”

Tibalah mereka di rumah, sang Ibu heran melihatnya dan mencari tahu bagaimana mereka bisa sampai di rumah dengan mudah. Ketika ia membuka pintu, ia melihat batu kecil putih yang bersinar. Agar mereka tidak bisa mengumpulkan batu putih itu lagi, Ibu mengunci pintu kamar mereka. Hans dan Gretel menjadi panik karenanya.

Sebelum tidur mereka berdoa pada Tuhan, meminta perlindungan. Keesokan harinya seperti kemarin, Ibu membangunkan mereka dan membawa mereka ke hutan. Hans tidak kehabisan akal. Dengan terpaksa ia mencuil-cuil potongan roti dan menjatuhkannya di jalan sambil berjalan.

Tapi malang, jejak yang sudah dIbuatnya susah payah dimakan oleh burung-burung kecil. Sampailah mereka di dalam hutan. Kembali Ayah dan Ibunya meninggalkan mereka dan masuk ke hutan yang lebih jauh.

Merekapun bermain-main dengan binatang-binatang di dalam hutan. Akhirnya malampun tiba. Ketika cahaya bulan mulai bersinar mereka beranjak pulang. Dengan susah payah dicarinya potongan-potongan roti sebagai petunjuk jalan untuk pulang ke rumah.

” Kak, apa yang telah terjadi dengan potongan-potongan roti itu ?” teriak Gretel cemas.” Mungkin dimakan oleh burung -burung kecil ”” Uhh.., kalau begitu kita tidak bisa pulang ke rumah.”


Di dalam hutan bergema suara lolongan keras. Mereka berdua amat ketakutan. “Kak, aku takut, kita akan mati !” Gretel mulai menangis. ” Jangan khawatir dik, Ibu yang ada di surga pasti menolong kita.”

Karena lelah, mereka akhirnya tertidur dengan pulas di bawah pohon. Cahaya matahari pun mulai bersinar dan mengenai wajah mereka. Hans dan Gretel terbangun dan disambut suara kicauan burung.
Tiba-tiba mereka mencium bau masakan yang lezat. Segera mereka berlari ke arah datangnya bau lezat itu. Seperti mimpi mereka melihat rumah kue, atapnya terbuat dari tart, pintunya dari coklat, dan dindingnya dari biskuit.

Cepat-cepat mereka mendekati rumah itu dan memakannya. Tiba-tiba terdengar suara keras yang bergetar. “Siapa itu, berani memakan rumah kue kesayanganku ?”, muncullah seorang nenek sihir tua dengan wajah menyeramkan serta mata merah yang bersinar, lalu menangkap mereka berdua.” Hi… Hi…. Hi…. anak-anak yang lezat, sebagai hukuman karena telah memakan rumput kue kesukaanku, aku akan memakan kalian .”

Dengan kasar nenek sihir itu menyeret Hans masuk ke dalam penjara. Setelah itu ia berkata kepada Gretel,
“Mula-mula aku akan menggemukkan anak laki-laki itu, lalu aku akan memakannya. ”
“Sekarang kau buat makanan yang enak biar makannya banyak ! ”

Nenek sihir itu sudah tua sekali dan matanya mulai rabun. Pada saat itu Hans dan Gretel saling berpegangan tangan memberi semangat supaya mereka tabah.” Tabahlah Gretel, Ibu yang ada di surga pasti melindungi kita “.

Suatu hari nenek mendekati penjara Hans untuk melihat apakah tubuh Hans sudah menjadi gemuk atau belum. “Aku lapar, sudah seberapa gemuk tubuhmu, ayo ulurkan tanganmu ! ”

Hans yang pintar tidak kehilangan akal, ia mengetahui kalau mata nenek sudah rabun segera dikeluarkannya tulang sisa makanan kepada nenek yang rabun lalu nenek memegangnya.
Betapa kecewanya nenek karena sedikitpun Hans tidak bertambah gemuk. Karena kecewa lalu ia bermaksud untuk memakan Gretel. Kemudian Gretel disuruh membakar roti.

Selagi Gretel menyalakan api di tungku, si nenek mencoba mendorongnya ke nyala api.
Untunglah Gretel mengetahui maksud nenek, cepat-cepat ia berbalik pergi ke depan tungku.“Nek, aku tidak bisa membuka tutup tungku ini .”

Nenek sihir tidak sadar kalau ia sedang diperdaya Gretel dan ia membuka tutup tungku.
Tanpa membuang kesempatan, Gretel mendorong nenek ke tungku.“Ahh… tolong…. panas ! ” teriak nenek kesakitan. Gretel tidak memperdulikan teriakan nenek malah dengan cepat ia menutup pintu tungku, lalu berlari ke arah penjara untuk menolong Hans.

“Gretel, kau berhasil. Ibu yang di surga telah melindungi kita.” Karena bahagia mereka berpelukan.
Ketika akan pergi dari rumah kue tanpa sengaja mereka menemukan banyak harta karun. Setelah itu mereka keluar rumah, tetapi malang jalan itu terpotong oleh sungai besar.

Mereka menjadi bingung. Saat itu entah dari mana datangnya tiba-tiba muncul seekor angsa cantik.” Ayo, naiklah ke punggungku, ” ucap angsa itu ramah. Satu per satu angsa itu mengantarkan mereka menyeberang sungai.

Setelah sampai, angsa itu menunjuk-kan jalan bagi mereka berdua dari atas langit. Sampailah mereka di batas hutan. Tanpa mereka ketahui sebenarnya angsa itu adalah Ibu mereka yang ada di surga. Angsa itu kemudian menghilang.

Setelah itu muncullah Ayah mereka yang sangat cemas. “Anak-anakku tersayang, maafkanlah Ayah. Ayah tidak akan meninggalkan kalian lagi “. Lalu Ayah menceritakan kepada mereka bahwa Ibu tiri yang jahat sudah meninggal karena sakit. Akhirnya mereka pun hidup bahagia selamanya.

Dongeng-Dongeng Grimm Bersaudara


Buku Dongeng-Dongeng Grimm Bersaudara ini berisi 63 buah kisah dongeng yang dikumpulkan oleh Grimm bersaudara berdasarkan legenda dan cerita kuno di Eropa, dan ditulis ulang dengan gaya mereka yang khas. Beberapa di antara dongeng-dongeng ini sudah sangat familiar bagi pembaca, terutama karena pernah diadaptasi ke layar lebar oleh Disney.

Ada “Putri Briar Rose”, versi asli dongeng Sleeping Beauty, “Rapunzel” si gadis berambut panjang, “Ashputtel” yang lebih dikenal dengan kisah Cinderella, juga“Tetesan Salju” yang diadaptasi menjadi Snow White yang telah melegenda. Kebanyakan kisah-kisah tersebut tentunya sudah diperhalus saat diangkat ke layar lebar oleh Disney, sehingga cocok untuk ditonton oleh anak-anak segala usia.

Beberapa dongeng lain juga sudah cukup familiar karena seringnya diceritakan, difilmkan, bahkan dibuatkan versi dewasanya; seperti Si Topi Merah, Hansel dan Gretel, serta Rumpelstiltskin. Aku mengagumi imajinasi dan daya khayal Grimm bersaudara, dan seru juga membaca versi asli dari kisah-kisah yang sudah begitu sering disadur ke dalam berbagai bentuk. Tapi menurutku, ada beberapa hal yang terasa cukup mengganggu saat membaca buku ini:

1. Detail kisah yang terasa cukup gory untuk anak-anak. Tidak seperti dongeng Hans Christian Andersen yang halus dan tragis, dongeng Grimm bersaudara justru kadang terlalu absurd, konyol, dan gory alias sadis. Padahal saat mengumpulkan kisah-kisah ini, Grimm bersaudara menekankan kalau mereka berusaha menulis ulang dongeng-dongeng yang ada supaya lebih sesuai dibaca oleh anak-anak! Masa sih? Coba kita lihat kisah “Pohon Juniper” misalnya, dimana seorang ibu tiri dengan tega membunuh anak laki-lakinya dan memotong-motong mayatnya, lalu memasaknya jadi sup dan menghidangkannya di meja makan! Yaiks, horror banget gak sihhh…(Mengingatkan sama Sweeney Todd!) Atau kisah “Mempelai Perampok”, saat sekelompok perampok dikisahkan menyiksa dan membunuh seorang gadis, lalu memotong-motong mayatnya juga. What’s wrong with the Grimms??

2. Gaya penceritaan yang repetitif. Hampir semua kisah diceritakan dengan teknik pengulangan. Contoh: ada tiga bersaudara yang berusaha menjalankan sebuah tugas penting. Anak sulung berangkat, menghadapi rintangan, gagal. Anak kedua berangkat, menghadapi rintangan yang sama, gagal juga. Barulah anak ketiga (biasanya si bungsulah yang memang selalu sukses) berhasil menghadapi rintangan. Pengulangan ini awalnya menjadi ciri khas yang menarik, tapi karena digunakan di hampir semua cerita, akhirnya malah membosankan dan membuatku tidak sabar membaca alur kisahnya.

3. Banyak cerita yang terlalu absurd. Terkadang tidak jelas apa moral of the story-nya. Aku ingat keluhan seorang teman yang berusaha membantu anaknya membuat PR tentang moral of the story dari dongeng “Putri Briar Rose” alias Sleeping Beauty. Kisahnya adalah tentang raja dan ratu yang mengundang para peri untuk merayakan kelahiran putri mereka. Tapi karena mereka hanya punya 12 buah piring emas, maka peri ke-13 pun tidak diundang. Akhirnya peri tersebut marah dan malah mengutuk sang putri. Nah, apa moral cerita ini? Bahwa kita harus mengundang semua orang meski tidak punya peralatan makan yang memadai? Atau lebih baik beli piring baru? Haha..aku jadi mengerti kesusahan si teman tadi.

Lalu ada juga cerita yang endingnya adalah “semua mati”. Depressing banget kan? Masa semua tokohnya mati sih? Ada beberapa cerita lain yang punya nilai moral, tapi terlalu mengerikan untuk dibaca oleh anak-anak. Misalnya kisah tikus dan kucing yang bersahabat, tapi pada akhirnya kucing memakan tikus karena “begitulah kenyataan dalam hidup”. Gimana menjelaskan hal itu pada anak-anak?

Secara keseluruhan, menurutku dongeng-dongeng ini cukup menarik, tapi harus dipilah- pilih lagi mana yang sesuai dengan anak-anak, terutama yang berusia muda. Harap diingat juga kalau dongeng memang rata-rata memiliki unsur imajinatif dan tidak masuk akal, sehingga anak-anak akan terpancing untuk bertanya dan melihat inti di balik kisah tersebut.

Grimm Bersaudara

Nah kalau kalian sadari, banyak sekali dongeng-dongeng yang aku posting dengan Grimm bersaudara (Grimm Brothers) sebagai penulisnya. Walaupun mereka sangat terkenal tapi aku yakin dari kalian pasti masih ada yang tidak tahu siapa Grimm Brothers itu. Jadi di postingan kali ini aku bakal bahas tentang siapa sih mereka.

========================================================================

Grimm Bersaudara (Grimm Brothers) merupakan kakak-beradik Jakob Grimm dan Wilhelm Carl Grimm. Mereka ialah dua orang akademik berkebangsa Jerman yang telah menerbitkan kumpulan cerita rakyat dan dongeng. Hasil kerja mereka dalam bidang linguistik, berkaitan dengan bagaimana bunyi-bunyi dalam kata-kata berubah dalam peralihan zaman (Hukum Grimm). Mereka dapat dikatakan sebagai pengarang novella paling masyhur dari Eropa.

Grimm Bersaudara, Jacob (1785-1863) lahir pada 4 January 1785 dan Wilhelm Karl (1786-1859) lahir pada 24 Februari 1786, kedua-duanya lahir di Hanau, salah satu kota di Jerman. Keduanya mengambil kuliah hukum di University of Marburg.

Pada tahun 1808, Jacob diberi gelar 'Court Librarian to the King of Westphalia' dan tahun 1816 bekerja di perpustakaan di Kassel (salah satu kota di Jerman), Wilhelm juga bekerja disana. Mereka tetap tinggal di sana hingga 1830, sampai mereka mendapatkan posisi yang lebih baik di 'University of Göttingen'.

Mereka berdua bekerjasama untuk membuat karangan-karangan indah. Dalam hal ini Jacob melakukan lebih banyak riset dan penelitian sedangkan Wilhelm yang lebih lemah, menyusun kata-kata dan menyajikan cerita tersebut dalam bentuk yang lebih mudah dimengerti oleh anak-anak.

Mereka juga tertarik pada cerita rakyak dan literatur tua, dan antara tahun 1816 dan 1818 mereka mempublikasikan 2 volume dari legenda rakyat jerman dan juga sebuah volume dari literatur sejarah. Banyak karya Grimm bersaudara yang juga telah diangkat sebagai film kartun oleh Disney.

Grimm bersaudara mempublikasikan volume pertama dari cerita dongeng, Tales of Children and the Home (Cerita tentang anak dan rumah), pada tahun 1812. Mereka mendapatkan cerita-cerita tersebut dari para petani dan penduduk kampung.

Beberapa dongengnya yang terkenal adalah “Putri Briar Rose”, versi asli dongeng Sleeping Beauty, “Rapunzel” si gadis berambut panjang, “Ashputtel” yang lebih dikenal dengan kisah Cinderella, “Tetesan Salju” yang diadaptasi menjadi Snow White, Si Topi Merah, Hansel dan Gretel, serta Rumpelstiltskin.

Bila dicermati lagi, dalam melakukan dan penulisan dongeng, Grimm bersaudara memiliki caranya sendiri. Berbeda dengan penulis lainnya, mereka lebih sering melakukan teknik penulisan yang cenderung absurd, konyol, dan gory alias sadis. Sehingga terkadang tidak jelas apa pesan moral yang diberikan dalam kisah-kisah tersebut.

Rabu, 01 Juni 2016

Dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih


Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.

Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, supaya Bawang putih tidak kesepian lagi.

Dengan pertimbangan dari bawang putih, maka ayah Bawang putih menikah dengan ibu bawang merah. Awalnya ibu bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.

Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.
Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwasalah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.

“Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?”

Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya 
mencuci tadi. Mataharisudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.” “Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.

“Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri. Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.
“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.
“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.

“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.

“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba. “Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.

Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.
“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.
Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.

Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.

Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi.

Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.
 

DONGENG Template by Ipietoon Cute Blog Design